Sabtu, 01 Agustus 2015

Salah (Part 4)

Sesampainya di rumah, aku menangis sejadi-jadinya. Aku tidak tau kenapa aku menangis, aku tidak tau apa masalahku. Sebenarnya aku tidak ingin menangis. Tapi aku bingung, mengapa hatiku sakit sekali. Mengapa aku menganggap dia itu Rio yang dulu meninggalkanku. AAAAHHH!! kenapa aku ini, mengapa jadi begini!! Aku benci kenangan itu. Aku sudah hampir melupakanmu, selangkah lagi! bahkan aku pikir semua akan lebih baik jika aku disini. Ternyata semua lebih buruk dari yang aku bayangkan.
“tok.. tok.. tok..” kalian tau kan itu suara pintu.
“siapa!?”
“ini bibi, ada telfon dari revi katanya “
Hah? Tau dari mana dia nomor telfon rumahku “iya bi, aku angkat dari sini saja”
“halo”
“indie, aku ganggu gak?”
“gak sih kak, ada apa?”
“nggak, aku cuman mau ngucapin makasih aja”
“buat?”
“kamu udah mau nganterin aku hari ini”
“iya kak sama-sama”
“he he he. Kamu lagi ngapain?”
“baru mau tidur kak.”
“kamu capek ya?”
“iya lumayan kak”
“indie..”
“ya?”
“aku boleh jujur?”
“kenapa kak?”
“aku suka sama kamu”
“hah?”
“iya, aku serius”
“tapi… aku..”
“aku tau kok, kamu gak suka kan sama aku?”
“bukan gitu kak”
“terus?”
“aku tuh nganggep kak revi udah seperti kakak sendiri. Jadi gak mungkin aku dan kakak..”
“iya aku ngerti, aku Cuma ingin jujur aja kok”
“maafin aku ya kak”
“iya gak apa-apa”
“oiya kak, kakak tau nomor telfon ini dari siapa?”
“dari data siswa mos, kan waktu itu disuruh tulis biodata kan?”
“oh iya iya, hahaha kakak niat banget”
“iya, hhehe. Ya sudah kamu tidur ya. Sudah malam. Selamat tidur indie”
“iya kak. Daaah”
“daah”
Telfon pun aku tutup. Aku gak paham kenapa kak revi berkata seperti itu, tapi ya sudahlah lupakan saja. Aku pun mecuci kakiku dan tidur.
Keesokan harinya di sekolah, aku merasa lelah. Mataku sembap, badanku lemas. Semalaman aku menangis di kamarku karena rio.
“kamu kenapa kundi?” tanya dica
“gak apa-apa”
“habis nangis ya?”
“nggak kok”
“jangan bohong, aku tau kok”
“tau apa?”
“kalau ada masalah, ceritakan padaku kundi, jangan dipendam begitu”
Aku melihat wajah dica
“bagaimana bisa aku ceritakan padamu dica, ini soal hati! Tentang aku dan pacarmu. Dan kamu adalah sahabatku. Apa kau sanggup mendengar saat aku ceritakan semuanya? Jika kamu sanggup, kurasa aku yang tidak akan pernah sanggup untuk menceritakan ini semua kepadamu dica. Bagaimana mungkin dengan sekejap aku menusuk hatimu dengan ceritaku ini. Dan apa aku harus jujur padamu tentang bagaimana perasaanku terhadap pacarmu? Aku pikir tidak” bisikku dalam hati
“kamu gak jawab? Belum mau cerita? Ya sudah gak apa-apa kok. Ceritanya lain kali saja ya, aku pasti siap mendengarkan” kata dica sambil mengusap kepalaku.
“iya” aku menjawab sambil meruduk. Karena aku takut dica melihat genangan air mataku
“oiya, hari ini rio mau menjemput. Dia bawa mobil hari ini, karena sebelum dia menjemput dia mau mengantarkan pamannya ke bandara. Apa kamu mau ikut? Dari pada naik angkot kan? pasti capek.”
“sepertinya gak usah, nanti aku merepotkan pacarmu. aku naik angkot saja yah”
“ayolaaah, jangan menolak tawaranku. Dari pada naik angkot? Yayayayayayaya???”
Entah kenapa saat itu aku iyakan tawaran dica. Aku yakin setelah pulang ke rumah nanti aku akan menangis ‘lagi’. tapi aku masih penasaran, apakah rio ini rio yang dulu aku kenal?
“eh aku boleh pinjam handphone kamu gak? Aku mau sms rio. Pulsa aku habis”
“boleh, nih” aku pun menyodorkan handphoneku”
Dica pun mengetik beberapa kata di sana.
“makasih”
“oke”
Dica tidak menghapus kotak terkirimnya, isinya begini
“sayang, hari ini jadi jemput kan? Maaf aku gak ada pulsa buat bales sms kamu. Hari ini aku pulang sekolah jam 12.45, aku ngajak kundi juga buat pulang bareng kita. Abis kasian kalau dia harus pulang naik angkot. Gak apa-apa kan sayang? Balesnya ke nomer aku aja ya soalnya ini nomer hp kundi. Bye. Love you”
Sakit sekali hatiku membaca smsnya.
Sepulang sekolah, aku dan dica menunggu rio di depan gerbang sekolah. Aku agak sedikit gugup menunggu rio. Entah kenapa, yang jelas aku sangat gugup.
“kundi, aku kebelet nih. Aku pipis dulu ya.”
“eh, nanti kalau rio datang bagaimana?”
“kamu naik duluan saja, bilang aku sedang ke toilet, ya?” dica pun pergi
Benar saja, tak lama dica pergi rio pun datang.
“hai, dicanya mana?” tanya rio padaku sambil membuka kaca jendela mobilnya
“la..lagi di toilet”
“oh ya udah, kata dica kamu mau nebeng ya? Langsung masuk aja”
“emm oke”
Aku pun naik ke mobil rio. Berdua dengannya di mobil. Dan kalian tau apa yang dia lakukan? Dia membuka tasnya dan memakan roti keju.
“mau?”
“ngg.. nggak usah, makasih”
“kata dica kamu suka banget roti keju, kita sama ya”
“iya”
“sejak kapan kamu pindah ke jakarta?”
“kok? Kok kamu tau aku baru pindah?”
“dica cerita”
“dica cerita apa aja tentang aku?”
“banyak deh pokonya”
“oh”
“kamu masih suka naik sepeda?”
Sebelum aku menjawab pertanyaan yang itu, dica sudah keburu datang dan masuk ke mobil
“halo yang, maaf ya lama tadi aku kebelet”
“iya gak apa-apa”
“kalian lagi ngomongin aku ya?”
“nggak kok” jawab rio langsung mengelak
“beneran kundi?”
“emmm i..iya enggak kok”
“kirain heheheh”
“kita mau langsung pulang aja nih?” tanya rio
“mampir dulu deh ke toserba, aku mau beli keperluan cewek, biasa.. heheehe. Gak apa-apa kan kundi? Bentaaaar aja, gak lama kok”
“emmm, iya gak apa-apa kok”
“oke deh makasih hehehe”
Rio pun menyalakan mesin mobilnya dan kamu menuju ke toserba, di mobil dica memang banyak bicara. Dia memang seperti itu, bawel.
Sesampainya di toserba
“aku sendiri saja ya yang turun? Kalian tunggu disini saja. Soalnya yang mau aku beli ini barang-barang pribadi, he he he. Gak apa-apa kan aku tinggal kalian disini? Sebentar kok.”
“ya udah gak apa-apa kok” jawab rio sambil mematikan mesin mobilnya.
“aku ikut sebentar, aku mau ke toilet” jawabku menyeka pembicaraan mereka
“oke deh, abis itu langsung balik lagi ke mobil ya? Jangan ngikutin aku loh, ha ha ha”
“iya, iya, gak bakalan kok”
Aku dan dica pun keluar dari mobil. Dica pun mengantarkanku ke toilet.
“kamu suka cerita tentang aku ya”
“cerita ke siapa?”
“ke rio” jawabku
“enggaklah, ngapain aku ceritain. Nggak kok gak pernah sama sekali”
“tapi kok dia tau ya aku suka makan roti keju?”
“ya mungkin itu dia ngarang kali, dan kebetulan bener, ha ha ha”
“iya mungkin ya”
“ya udah, kamu ke toilet aku ke dalem ya. Kalau aku nungguin kamu takutnya nanti kelamaan”
“oke deh”
“bisa sendiri kan?”
“iya bisa kok dicaa”
“okee daaah, awas nyasar nanti. ha ha ha”
“iya”
Selesai aku dari toilet, aku kembali ke mobil rio. Sebenarnya aku ingin ikut dica, tapi dica sedang tidak mau ditemani. Ya sudah aku kembali saja ke mobil rio.
“udah ke toiletnya?”
“iya udah”
“eh yang tadi belum dijawab”
“yang mana?”
“kamu masih suka naik sepeda gak?”
“enggak”
“kenapa?”
“malas”
“kok malas sih? Bukannya dulu kamu suka sekali naik sepeda?”
“itu dulu, sebelum kamu pergi”
Rio pun terdiam, wajahnya nampak terlihat bingung. Dia tidak bisa menjawab
“kamu rio kan? rio yang dulu ninggalin aku? Iya kan!?”
“rio mana? Aku gak ngerti”
“jangan bohong! Kamu tau aku suka roti keju, kamu tau aku suka naik sepeda! Kamu tau itu semua dari mana?”
“aku tau dari dica”
“bohong!!! Dica bilang dica gak pernah cerita apapun tenyang aku ke kamu! Kamu rio kaaan?!”
Kami berdua terdiam. Rio tidak bisa menjawab. Tak terasa, air mataku pun jatuh. Aku menangis tanpa bersuara, tanpa mengatakan apapun.
“aku mohon jelasin” pintaku dengan nada pelan
“aku gak bisa kundi”
“kamu rio kan???!”
“iya oke, aku rio. Terus apa?”
“terus apa?? Kamu tanya terus apa??! Kamu gila ya?”
“aku harus apa sekarang, kamu sudah tau semuanya. Aku harus gimana?? Aku bingung”
“kenapa kamu pura-pura gak kenal sama aku waktu itu?”
“aku gak bisa jujur! Aku gak mau kamu nangis kalau kamu tau ini aku kundi! Aku gak bisa!”
“tapi sebelum ini terjadi juga kamu sudah bikin aku nangis! Kenapa kamu dulu pergi ninggalin aku?”
“aku jelasin juga kamu gak bakalan ngerti!”
“jelasin sekarang! Aku gak bisa terus-terusan begini rio, aku gak bisa!”
“oke, kamu itu adik aku!”
“maksud kamu?”
“ayah kamu itu ayahku juga!”
“tapi kamu bilang ayahmu sudah meninggal kan? Dan ayahku masih hidup! Kamu jangan membuat lelucon. Ini tidak lucu!”
“aku bukan pelawak, untuk apa aku berguyon saat seperti ini!”
“aku gak ngerti!”
“baik, maafkan aku dulu sudah meninggalkanmu. Aku tau, kau merasa kehilangan. Aku pun sama. Sangat sakit dan sangat berat untuk meninggalkanmu. Tapi itu harus ku lakukan, karena aku adalah kakakmu, dan kamu adikku. Kamu mungkin bertanya-tanya mengapa aku berkata seperti ini. Ayahmu adalah ayahku juga. Kita satu ayah tapi beda ibu. Ibuku adalah istri pertama ayahmu. Aku tau itu karena saat aku ke rumahmu aku melihat foto keluargamu. Aku melihat foto ayah disana. Saat aku bertanya pada ibu, akhirnya ibu menceritakan semuanya kepadaku. Dulu, saat aku tanya kemana ayah, ibu selalu bilang ayah sedang bekerja. Dan ibu hanya memperlihatkan fotonya kepadaku. Tapi ternyata, itu hanya dongeng agar aku percaya bahwa aku juga memiliki ayah. Tapi sekarang semuanya terungkap. Ayah yang tidak pernah menganggapku ada. Saat ibuku mengandung aku, ayah menceraikan ibuku karena ayah selingkuh dengan ibumu. Kau tau? Aku dibesarkan tanpa kasih sayang seorang ayah. Itu sebabnya aku selalu mengatakan ayahku sudah meninggal. Saat ditinggal oleh ayah, ibuku seorang diri membesarkanku. Ayah tidak pernah mengirimkan uang sepeser pun kepada kami. Ibu membanting tulang agar kami bisa hidup. Sampai akhirnya aku terlambat masuk sekolah, umurmu dan umurku berbeda 1 tahun. Umurku sekarang 16, dan kamu 15. Karena kurangnya biaya aku harus terlambat masuk sekolah, usaha ibuku mulai maju saat aku berumur 11 tahun. Lukisan ibuku sangat laris di pasaran. Hingga Ibuku bisa membeli rumah di dekat rumahmu itu. Dan saat aku tau kau adalah anak dari istri kedua ayahku, aku ingin membencimu. Tapi aku tidak bisa. Aku menyayangimu kundi, tapi sayang ini hanya bisa sebatas adik dan kakak saja. Tidak lebih. Maafkan aku, aku harap kamu bisa mengerti. Dan aku mohon kepadamu jangan bahas ini kepada ayah atau ibumu. Karena aku tidak mau ada hal-hal buruk yang terjadi nantinya dan membuat aku berpisah denganmu lagi”
Aku terdiam. Aku merasa sangat bersalah. “Tuhan, rumit sekali persoalanku ini? Apa yang harus aku lakukan?” pikirku dalam hati
“kau mencintai dica?” tanyaku pada rio
“mungkin pertanyaanmu salah”
“kenapa?”
“karena itu pertanyaan bodoh”
“maksudmu?”
“jika aku dapat memilih, aku akan memilih untuk bersamamu selamanya, jadi mungkin pertanyaanmu sudah terjawab kan?”
“aku menyayangimu rio, sangat menyayangimu”
“aku pun, jangan fikirkan kenapa semuanya harus jadi seperti ini. Jangan menyalahkan keadaan”
“mengapa?”
“karena keadaanlah yang membuat kita bertemu lagi, walaupun sekarang kamu pasti terluka karena sudah tau kenyataan pahit yang harus kita jalani. Tapi aku senang bertemu denganmu disini.”
“jaga dica baik-baik ya. Dia temanku. Dia baik, aku rela kalau kau harus berjodoh dengannya nanti”
“aku akan menjaga dica seperti aku menjagamu. Aku akan menyayangi dica sama seperti aku menyayangimu.”
“rio…”
“ya?”
“jangan tinggalkan aku lagi ya.”
“iya, tidak akan pernah”
“maafkan ibuku ya rio”
“bukan salahmu, bukan salah ibumu. Jangan bahas lagi ya”
“baiklah”
“kundi…”
“ya?”
“berikan salam maafku untuk ayah dan ibumu nanti ya. Ucapkan terimakasih juga”
“untuk apa?”
“karena, karena mereka kau ada di dunia ini. Menjadi adikku.”
Aku pun menangis. Tidak ada lagi yang bisa aku salahkan. Jelas sudah semua pertanyaan yang ada di otakku.
Kau tau? Hidup ini sulit. Bahkan terkadang terfikir untuk mengakhiri hidup ini. Tapi apa kau pernah berfikir? Hidup ini sudah dirangkai dengan berbagai macam jalan yang bisa membawamu kepada beribu-ribu perasaan. Manusia memang egois, hanya ingin merasakan senang saja. Merasa paling tersakiti jika dihadapkan dengan berbagai masalah. Aku ini bodoh, memandang sebelah mata tanpa berfikir bagaimana sebenarnya masalah ini bisa terjadi. Sekarang sudah jelas semuanya. Rio adalah kakakku. Aku tau, dia memang bukan kakak kandungku. Bahkan selamanya akan selalu begitu. Keegoisanku membawaku untuk memaksanya lebih dari itu. Tapi itu tidak bisa terjadi, bagaimanapun caranya dia akan tetap menjadi kakakku. Dia sudah mendapatkan kebahagiaannya. Dan dia berjanji akan membahagiakanku sebagai adiknya. Aku pun harus sama sepertinya. Aku harus mencari kebahagiaanku dan aku harus membahagiakan kakakku Tapi aku yakin, di kehidupan selanjutnya, kita akan bisa lebih dari ini.
Mungkin kalian bertanya, apa aku membenci ayahku? Atau ibuku? Tentu saja tidak. Aku tidak akan pernah bisa membencinya. Mereka adalah jembatan yang membuat aku mengenal rio. Jika tidak terjadi hal ini, aku tidak akan menemukan kakakku. Aku akan menjadi tunggal selamanya. Aku belajar, hidup ini bukan tentang siapa yang benar atau siapa yang salah. Tetapi tentang memaklumi, memaafkan, dan mengikhlaskan. Dengan begitu kita dapat menjalani semuanya dengan tenang. Mencintai adalah sebagian dari rasa sayang. Tapi menyayangi itu artinya lebih besar daripada mencintai. Aku menyayangimu kak, walaupun kita tercipta hanya sebagai kakak dan adik.


Salah (Part 3)

Di perjalanan kak revi selalu memperhatikanku lewat kaca spion motornya. Entah mengapa aku merasa risih. Aku tidak suka dia melihatku terus.
“ada apa kak? Kok melihatku dari kaca spion melulu?”
“hah? Mmm nggak. Aku melihat mobil di belakang kok” jawab kak revi sambil sepertinya dia menahan malu karena aku tau dia memperhatikanku dari tadi
“oh” jawabku
Sejak saat itu aku dan kak revi tidak berbicara apa-apa lagi. mungkin dia malu karena kejadian tadi.
“itu rumahku kak yang warna hijau”
“oh yang itu” kak revi pun menghentikan motornya di depan rumahku
“mau mampir dulu kak?” tanyaku menawarkan. Sebenarnya itu hanya basa-basi saja sih. Kan tidak enak, aku sudah diantar pulang tapi aku tidak mengajaknya masuk.
“nggak usah indie, aku langsung pulang saja. Sudah terlalu sore, lain kali saja ya”
“iya deh kalau begitu, terimakasih ya kak, hati hati”
“oke” jawab kak revi sambil melambaikan tangan kirinya dan berlalu.
Akhirnyaaa, aku sampai ke rumah juga, aku pun mandi, makan dan segera tidur. Karena aku merasa sangat lelah sekali.
Keesokannya di sekolah, aku belajar seperti biasa. Aku mulai kenal dengan orang-orang yang satu kelas denganku. Satu per satu aku mulai suka dengan kelas ini. Tapi tetap saja aku lebih suka diam, dan menikmati sepi. Aku duduk satu bangku dengan dica, ya dia teman satu kelasku. Dica adalah teman pertamaku sejak aku masuk ke sekolah ini. Dica anak yang baik, dia sangat mengerti sifatku. Dica dan aku sangat berbeda jauh. Dica adalah anak yang aktif, baru masuk sekolah beberapa hari saja dica sudah mendapat banyak sekali teman dari tiap-tiap kelas. Dica memang pandai bergaul, tapi satu kelemahan dica, dia kurang tekun belajar. Terkadang dia tidur seharian di uks, dengan alasan sakit kepla, sakit gigi, bahkan kadang dia bilang dia sedang datang bulan agar dia diizinkan tidur di uks. Padahal setauku, datang bulan kan satu bulan sekali, dia hampir seminggu sekali. Ya, itulah dica. Tapi dibalik semua itu dia sangat baik dan dia tidak egois.
Bel istirahat pun berbunyi. Seperti biasa aku memakan bekalku (roti keju). Entah mengapa aku tidak pernah bosan memakan roti keju, bagiku rasanya selalu enak.
“kamu suka banget ya roti keju?” tanya dica sambil menyalin catatanku, sudah ku bilang kan? Dica itu sangat tidak tekun dalam belajar.
“iya, aku suka banget!! Gak tau deh kenapa, pokoknya enak. Kamu mau coba gak?”
“emmm, nggak deh. Aku gak suka keju. Kamu seperti pacarku saja, suka sekali roti keju.”
“oh, pacar dica suka keju? Pasti orangnya tampan”
“iyalaaah, ha ha ha. Kok kamu tau?”
“tau lah, semua orang yang suka keju di dunia ini kalau dia laki-laki pasti tampan, dan kalau dia perempuan pasi dia cantik he he he.”
“kalau yang gak suka?”
“ya kamu bisa tebak sendiri lah” ledekku sambil menahan tawa
“yeeeh, konyol banget sih hahahaha”
Saat kami sedang asik mengobrol, puti (teman sekelasku juga) menyela pembicaraan kami
“kundi, tadi kamu dicariin kak revi tuh”
“oh ya? Ada apa memangnya put?”
“kurang tau sih, pokoknya kamu dicariin. Katanya kalau aku ketemu kamu, kamu disuruh tunggu di depan ruang osis”
“oke deh put nanti aku kesana, makasih ya”
“oke”
“Untuk apa ya kak revi mencariku?” tanyaku sambil mengunyah roti yang masih ada di mulutku
“CIEEEE, dicariin kakak tersayang tuh” ledek dica
“apa sih, aku saja gak tau kenapa dia mencariku” gerutuku membalas ledekan dica
“dia suka tuh”
“siapa?”
“pacarku”
“hah?”
“kak revi lah, masa pacarku”
“enggak lah, dia hanya kakak kelas biasa kok”
“yakin?”
“iya”
“aku sih gak yakin”
“dicaaaa, sudah deh aku gak mau bahas”
“he he he iya deh, aku gak akan bahas sekarang”
“iya bagus kalo gitu”
“tapi nanti”
“dicaaaaaaaa!!!”
Dica pun berlari ke luar. Aku sih tidak mau mengejar, aku kan lagi makan. Hahaha. Aku biarkan saja dia berlari keluar. Toh nanti dia pasti kembali lagi ke kelas.
Selesai makan, aku pergi menuju ruang osis. Aku penasaan juga untuk apa kak revi mencariku.
“kakak cari saya?”
“oh iya indie, sini”
Aku pun menghampiri kak revi yang sedang duduk di depan ruang osis
“ada apa kak?”
“gini, aku mau cari kado buat ulang tahun ibu. Tapi aku gak tau mau beli kado apa. Kamu bisa nemenin gak?”
Yang terlintas di pikiranku saat itu adalah “MALAS”
“mmm, kapan kak?”
“hari ini, pulang sekolah. Bisa?”
“harus hari ini ya?”
“iya, soalnya kalau hari lain nanti aku takutnya kamu atau aku ada yang gak bisa. Gimana?”
“oke deh kak, tapi ku gak bisa pulang terlalu sore”
“iya deh gak bakal terlalu sore”
“iya deh”
“ya sudah nanti pulang sekolah aku ke kelas kamu ya”
“oke deh kak”
Aku pun pergi dari tempat itu, aku sebenarnya malas menemani kak revi. Sangat sangat malas. Tapi kalau aku menolak, aku kasihan.
Bel pun berbuyi. Aku pun masuk kelas dan pelajaran dimulai kembali.
“habis ketemu kak revi ya?” ledek dica
“iya”
“apa katanya?”
“mau tau?”
“iya”
“tanya aja kak revinya”
“bener yah, aku tanya ah” dica pun berdiri
“ehhh jangan, kamu gila ya? Lagi pelajaran begini malah keluar!”
“ha ha ha, Emang dia bilang apa?”
“dia minta antar beli kado untuk ibunya”
“cieee, kan kan kan. Apa aku bilang”
“memang kamu bilang apa?”
“bilang cie”
“oh”
“dia suka tuh”
“enggak”
“kalau enggak, kenapa minta anternya sama kamu?”
“soalnya kalau minta antar sama kamu, dia gak bakalan mau”
“bukan gak mau, tapi dia takut kamu cemburu, ha ha ha”
“dicaaa, udah deh”
Bel pulang pun berbunyi, ini saatnya dimana aku harus mengantar kak revi. Baiklah, aku harus siap. Hingga akhirnya kak revi pun datang ke kelasku
“hai dica, indie ada?”
“ada kak, itu lagi beres-beres”
“oke deh tolong kasih tau ada aku disini”
“kundi, ada kak revi nih nungguin” teriak dica dari pintu kelas
“oh iya iya ca, bentar lagi”
“udah kak, saya duluan ya. Sudah dijemput soalnya”
“oh iya iya silahkan”
Aku pun menghampiri kak revi
“maaf ya kak lama, tadi buku aku diacakin sama dica”
“ha ha ha, iya gak apa-apa. Jadi kan?”
“iya kak, jadi”
“ayo kalo gitu”
Singkat cerita, aku dan kak revi pergi mencari kado untuk ibunya kak revi. Kami pergi ke sebuah mall, entah apa nama mall nya, aku tidak tau. Karena aku baru pertama kali pergi ke mall di jakarta.
“aku beliin apa ya?”
“buat ibu ya? Emmmmm gimana kalau boneka?”
“indie, umur ibuku sudah gak cocok main boneka”
“kalau baju?”
“aku takut nanti gak muat atau kebesaran”
“kalau tas?”
“emmmm, boleh juga. Dimana ya tempat tas”
“itu tuh kak, eh apa iya itu?”
“iya, kamu pilihkan ya. Aku tidak tau selera perempuan itu yang bagaimana”
“oke deh kak”
Aku pun memilihkan tas yang berwarna coklat muda, dengan manik manik di pinggirnya.
“kalau ini aja gimana kak?”
“yaaa, ini bagus. Tapi ibu suka gak ya?”
“menurut aku sih pasti bakalan suka, soalnya kan gak terlalu lebay dan ini kalau dilihat-lihat elegan loh kak, seperti tas yang harganya jutaan”
“iya juga sih, ya sudah deh”
Kak revi pun membawa tasnya ke kasir dan membayarnya. Kami pun keluar dari toko itu.
“indie, kamu laper gak?”
“emmm lumayan sih kak”
“ya sudah kita makan dulu saya yuk, itung-itung kamu sudah bantu aku cariin kado buat ibu, aku teraktir deh”
“ih, gak usah kak. Aku bawa uang kok. Merepotkan sekali, aku gak pamrih orangnya. Aku ikhlas kok membantu kakak”
“yeeee, iya aku tau kok kamu gak pamrih. Ini kan aku yang tawarin. Udah, iyakan saja. Ayo” kata kak revi sambil menarik tanganku ke sebuah tempat makan di mall tersebut.
“bentar ya indie, aku mau ke toilet dulu. Kebelet dari tadi”
“oh iya kak”
Aku pun duduk menunggu kak revi datang. Sambil menunggu, aku melihat menu-menu yang ada di tempat makan tersebut. Aku pun melihat ke sekeliling tempat makan itu, pandanganku tertuju pada seorang lelaki yang sedang duduk dan membaca buku. Terus dan terus aku pandangi. Aku seperti kenal sosok itu. Tapi aku tak bisa jelaskan. Siapa dia? Mengapa sangat mirip. Ahhh, tidak mungkin. Aku mulai berhalusinasi lagi.
“hey, lama ya?”
“ennggak kok enggak” jawabku terbata-bata
“kamu kenapa?”
“nggak apa-apa kok.”
“oiya, tadi aku ketemu dica waktu keluar dari toilet”
“oh ya? Mau ngapain dia?”
“ya dia mau ke toilet lah”
“maksud aku, dia ngapain kesini”
“yang pasti dia mau makan lah kundi”
“sama siapa?”
“katanya sama pacarnya”
“oh”
“eh, kamu pesan apa?”
“samain aja sama kakak deh, aku bingung he he he”
Belum selesai pembicaraanku dan kak revi tiba-tiba
“heh, kalian pacarannya ngikutin aku nih ah, gak asik” ternyata dica
“eh dica, sama siapa?”
“sama pacar dong he he he”
“mana? gak ada?”
“lagi ke toilet tuh dianya”
“oh gitu”
“iya, eh kalian udah lama disini? Aku boleh ikut gabung kan sama kalian disini?”
“baru kok, iya boleh lah dicaa” kataku
“eh dica, kamu pesan apa?” tanya kak revi meyodorkan menu
“aku pesan…” saat kak revi dan dica mengobrol aku mencari sosok lelaki yang tadi duduk di ujung sana. Tapi dia tidak ada, kemana dia? Apa tadi aku hanya berhalusinasi saja? Tapi, aku kenal orang itu.
“hai yang, lama banget” kata dica saat pacarnya datang ke meja kami.
“iya maaf tadi di wc ngantri”
“oh gitu, kenalin ini kak revi kaka kelas aku. Dan yang ini dica temen satu bangku aku”
Aku masih mencari lelaki tadi, aku yakin aku kenal dengan orang itu.
“kundi, hey kundi!” sambung dica sambil membunyikan jarinya di dekat mataku
“emmm, iya. apa?”
“ini kenalin, pacar aku”
“rio” sambil menyodorkan tangannya
“indie” sahutku
Dia adalah lelaki yang aku lihat tadi, namanya rio. Kalian ingat? RIO! Saat aku berjabat tangan dengannya, hatiku sakit. Aku seperti bisa merasakan aliran darahku. Badanku lemas, jantungku berdebar sangat cepat. Hatiku sakit, sangaaaat sakit. Aku seperti ingin menangis. Aku ingin pulang. Aku ingin menangis sejadi-jadinya.
Dia sama sekali tidak canggung, dia bersikap biasa saja selayaknya baru mengenal aku. Dia bertingkah mesra selayaknya orang berpacaran. Aku yakin dia rio, kata dica dia suka sekali roti keju. Iya dia pasti rio! Tapi mengapa dia tidak menyapaku. Dia tidak mengajakku bicara. Apa dia lupa? Apa dia sudah melupakan aku? Atau dia bukan rio? Kalau dia bukan rio, kemana rio yang aku kenal? Mengapa aku mengingatnya lagi. mengapa ingatan itu hadir lagi? mengapa semua jadi seperti ini? Rioooo, mengapa kamu hadir lagi? aku benci semua ini!!!


Salah (Part 2)

Sepulang sekolah, aku mengayuh sepedaku dengan hati-hati karena memang tangan dan kakiku masih lumayan sakit. Sesampainya di rumah aku ganti baju, dan seperti biasa aku membawa bekal roti keju di dalam tempat bekalku. tidak lupa aku membawa jaket rio yang kemarin dia pinjamkan untukku.
“de kundi mau kemana? Kan baru pulang sekolah” tanya bi ina saat aku mengeluarkan sepeda dari garasi.
“aku mau sepedahan bi”
“tangan kakinya sudah tidak apa-apa? Nanti sakit lagi loh de”
“enggak kok bi, sudah baikan. Aku pergi dulu ya bi. Aku gak akan pulang terlalu sore. Dah bibi..” aku pun berlalu meninggalkan rumah.
Aku melaju menuju rumah rio, dan sesampainya aku disana,
“permisi… permisi…”
Lalu aku membaca “PENCET BEL” lalu aku pencet. Bagaimana kalau tulisannya “MAKAN BEL” pasti aku makan.
Beberapa menit kemudian, nampaklah sesosok rio yang membukakan pintu. Dengan mata merah dan jaket tebal di badannya.
“hai rio”
“kundi, ngapain kesini?”
“mau jengukin kamu sekalian ngembaliin jaket yang kemarin, nih” jaket itu ku berikan kepada rio. Dan rio pun mengambilnya
“emang aku sakit?”
“kalau kamu gak sakit berarti sehat”
“kalau aku sehat kamu ngapain jengukin aku?”
“kan kamu sakit?”
“aku gak sakit!”
“berarti sehat?”
“ah.. ya sudahlah, silahkan masuk”
“makasih he he he he”
Aku pun masuk ke rumah rio. Waaa keren sekali. Banyak benda benda seni di dalamnya. Ukiran kayu, patung batu, lukisan abstrak.
“rumah kamu unik ya”
“biasa aja. Kamu mau minum apa?”
“ah gak usah. Aku mau jus melon aja”
“gak ada melon. Katanya gak usah”
“aku bawa minum kok. Gak usah repot-repot rio”
“oh ya sudah”
Aku pun duduk di sofa ruang tengah rumah rio.
“kamu sakit ya?”
“enggak”
“ah bohong”
“iya aku gak jujur”
“bener kan kamu sakit?”
“iya, hanya gak enak badan saja. Eh kenapa bisa tau rumahku?”
“tau lah, aku kan pernah melihatmu di teras”
“oh”
“kamu lihat aku kan?”
“nggak”
“ah bohong lagi, dasar tukang bohong”
“iya aku lihat”
“lalu kenapa langsung masuk?”
“malas liat kamu”
“jahattt!!!”
“he he he enggak, waktu itu ibuku manggil, jadi aku masuk”
“oh gitu, aku kira kamu takut sama aku. Di rumah ada siapa yo?”
“gak ada siapa-siapa, aku sendirian. Mama lagi di luar kota, ikut pameran lukisan”
“oh mama kamu pelukis ya?”
“iya”
“siapa namanya?”
“stefany martha”
“oh, itu. Aku punya lukisannya di rumahku. Ayahku dulu pernah beli”
“oh gitu ya, makasih”
“pantesan rumah kamu banyak barang-barang seninya”
“iya”
“ayah kamu kemana?”
“ayah sudah pergi.”
“kemana?”
“ke surga”
“maaf yo, aku gak tau..”
“gak apa-apa. Jangan bahas lagi ya, aku kurang suka.”
“iya deh maaf ya. Kamu sudah makan?”
“sok perhatian, dasar cewek”
“aku serius, kalau kamu belum makan ini aku bawa roti keju. Aku juga laper nih soalnya”
Singkat cerita aku dan rio pun makan roti keju bersama. Ternyata rio suka keju. Banyak sekali kesamaanku dan rio. Rio juga suka musik, di kamarnya ada drum, gitar dan bass.
“kamu mau aku ajarin main gitar gak?” tanya rio sambil mengambil gitarnya
“boleh boleh, aku bisa sih. Tapi hanya beberapa kunci saja he he he”
“ya udah sini aku ajarin”
Rio mengajariku bermain gitar, itu pertama kalinya dia memegang tanganku. Dan pertama kalinya pula aku dan seorang lelaki bersama dalam sebuah ruangan. Hanya berdua. Aku tidak tau apa yang aku rasakan. Tapi semua hal negatif di dalam otakku tentang rio semuanya seakan hilang. Dia itu baik, dia manis, hanya kadang dia salah mengartikan maksudnya kepada orang lain. Karena sifatnya yang terlalu dingin dan entah mungkin masih banyak kemisteriusannya yang dia simpan sendiri. Aku tidak perduli itu. Yang aku tahu, dia adalah rio. Aku kenal dia sekarang. Dan dia baik. Dia adalah teman lelaki pertamaku. Aku nyaman, dan aku sayang dia.
Setelah itu aku dan rio bersahabat. Kami sering bersepeda bersama. Kami selalu membawa bekal yang sama. Rio selalu membuat aku tersenyum. Kami pun sangat akrab. Kami belajar bersama, mengerjakan tugas bersama, tertawa bersama. Ternyata, rio juga pandai melukis. Saat hari ulang tahunku rio menyelipkan kertas di buku paketku. Dan dia melukis wajahku disana. Lukisannya sangat indah. Dan ada tulisan “selamat ulang tahun indie, aku sayang kamu.” Entah apa maksudnya kalimat sayang yang dia tuliskan saat itu. Mungkin karena umurku yang masih seumur jagung, aku mengartikannya dengan artian pertemanan saja, tidak lebih. Jika aku menggambarkan sosok rio, dia itu sangat istimewa. Dia selalu ada saat aku membutuhkan. Saat orangtuaku tidak ada, dia selalu main ke rumahku. Dia bilang dia datang agar aku tidak kesepian di rumah. Aku tidak tau kenapa dia sangat ingin bertemu ayah dan ibuku. Dia bilang, dia ingin mengenal mereka. Tetapi karena ayah dan ibu sangat sibuk, maka keinginan rio itu belum bisa terwujud. Kadang juga kami berangkat bersama dari rumah, rio datang menjemput ke rumahku. Aku diboncengnaya sampai ke sekolah. Senang sekali aku bisa mengenalnya.
Hari ini hari pengambilan rapot. Ibuku datang ke sekolah untuk mengambil rapotku. Aku sangat senang sekali. Karena hari ini aku bisa pergi ke sekolah bersama ibu. Ternyata rapotku tidak buruk, nilainya tidak ada yang jelek. Ibu sangat senang melihat hasil belajarku. Ibu bilang ibu akan belikan aku sepeda baru. Ya, aku harus ceritakan pada rio. Dia harus tau semua ini. Pasti dia juga senang mendengarnya. Tapi perasaan kecewa menghampiriku, aku tidak bertemu rio di sekolah. Entah mengapa, aku sangat rindu padanya. Apa dia tidak mengambil rapotnya? Ah lebih baik aku ke rumahnya saja.
Sesampainya di rumah rio, hanya ada kakek tua yang sedang menyapu di halaman rumah rio. Sebelumnya aku tidak pernah melihat kakek ini, dia siapa? Apa mungkin kakeknya rio?
“permisi kek, rionya ada?”
“rio siapa ya nak?”
“itu kek, rio yang tinggal di rumah ini”
“oh, pemiliknya sudah pindah dari kemarin nak”
Aku pun terdiam. Pindah? Apa yang kakek ini katakan? rio tidak mungkin meninggalkanku. Rio kan sudah berjanji. Kami akan selalu bersama selamanya. Kami akan makan roti keju bersama. Dia juga belum selesai mengajariku bermain gitar!!! Rio pindah? Kemana!!!
“apa kakek tau kemana pindahnya?”
“kakek tidak tahu nak”
“baiklah kek, terimkasih ya”
Aku pun pergi dari rumah yang ‘dulu’ ditempati rio.
Sesampainya di rumah, aku menangis sejadi-jadinya. Aku sangat sedih. Rio, tega sekali kamu pergi. Kamu jahat!! Sangat jahat!! Apa jadinya aku tanpa kamu? Siapa lagi temanku mengadu kalau bukan denganmu?
Hari-hari ku jalani tanpamu rio. Sepi, sangat sepi. Tidak ada lagi yang ketus kepadaku hari itu. Tidak ada lagi temanku bersepeda. Aku sering melewati rumahmu, tapi selalu saja kakek itu yang ku lihat. Semakin sering aku bersepeda, semakin sakit hatiku. Dan parahnya lagi, saat aku mulai masuk SMP, bi ina keluar dari pekerjaannya. Bi ina menikah dan ikut suaminya ke banten. Aku sangat kesepian. Aku berharap ada yang bisa menggantikan posisimu rio. Tapi sampai sekarang, tidak ada. Ibu dan ayahku tetap sibuk dengan pekerjaannya. Aku sekarang sudah tidak mau lagi bersepeda. Aku lelah, bukan lelah karena mengayuh sepedanya. Tetapi aku lelah mengenangmu. Aku lelah mengenang saat kamu disini bersama dengan sepedamu. Di tengah keramaian aku tetap merasa sepi. Di tengah keramaian juga hanya wajahmu yang aku lihat. Ku hampiri sosok itu, namun semua itu semu. Tidak ada. Aku bingung. Aku kesal. Kamu jahat rio!
Saat aku lulus SMP, ibuku bilang aku akan melanjutkan sekolahku di jakarta. Karena ayahku akan membuat proyek disana. Aku iyakan saja kata-kata ibu. Lagi pula aku bosan dengan suasana disini, aku juga bosan mengenang kenanganku bersama rio. Aku berharap dapat membuka lembaran baru di sekolahku yang baru nanti. Aku sangat berharap itu. Ibuku sudah mendaftarkanku di SMA 20 jakarta selatan. Tanpa pikir panjang, aku setujui saja semua yang sudah ibu rangkai sedemikian rupa. Dan pada akhirnya aku pun harus pindah rumah juga, pindah sekolah, dan segalanya berubah. Rumahku di komplek ini juga dijual, entah kepada siapa aku tidak tau. Hilang sudah semua kenanganku di rumah ini. Tempat aku dan bi ina biasa bersama, tempat aku menunggu ayah dan ibuku pulang, dan tempat aku menangis saat rio meninggalkanku.
Saat aku akan pergi ke jakarta, aku menyempatkan diri untuk pergi ke rumah rio, emm maksudku rumah tempat rio ‘dulu’ tinggal. Saat aku sampai, kulihat rumah itu nampak sangat sepi dan banyak tumbuhan-tumbuhan liar yang sudah tumbuh memanjang disana. Entah sudah berapa lama aku tidak pernah melewati rumah ini. Seperti rumah hantu. Dimana kakek tua yang biasa menyapu halaman? Kalian mungkin tak menyangka, saat aku menanyakan kemana perginya si kakek kepada bapak bapak pemotong rumput di sebrang rumah rio, dia menjawab bahwa kakek itu sudah meninggal kemarin. Dia sakit sejak 3 bulan yang lalu. Tidak ada yang mengurusnya. Bahkan dia tidak pernah keluar rumah lagi sejak ia sakit. Ia hanya keluar pagi-pagi untuk berjemur di terasnya. Entah mengapa aku merasa kehilangan. Aku memang tidak tau siapa kakek itu. Tapi aku… ah sudahlah mungkin kalian juga pasti merasakan hal yang sama jika menjadi aku.
Singkat cerita, sesampainya aku di jakarta akhirnya aku sampai di rumah baruku. Kalian tau? Aku sebenarnya tidak mau menyebutnya rumah. Mungkin bisa aku sebut ini gedung rapat untuk DPR. Karena ukurannya sangat besar sekali dua kali tiga kali empat kali lima kali. Aku aneh pada ayah dan ibuku. Kenapa mereka membeli rumah yang sebesar ini? Aneh.. padahal aku sangat yakin pasti mereka jarang sekali pulang, apalagi dengan proyek ayahku yang sedang melejit naik. Sudahlah, untuk apa aku pikirkan, toh aku sudah sering merasakan ini. Saat itu hanya satu hal yang aku takutkan. Kalian tau? Bagaimana bisa aku tidur di kamar sebesar ini sendirian. Aku takuuut, sangat takut. Apalagi di kamarku ada jendela yang sangat besar juga. Seperti film horor, judulnya kamar besar kundi. Judul yang standar, baiklah lupakan.
Saat liburan aku habiskan di rumah baruku. Toh rumah ini seperti hotel. Aku tidak perlu liburan, semua sudah di sediakan disini. Aku minta pada ayah dan ibu agar dicarikan bibi baru pengganti bi ina, agar aku ada teman di rumah. Dan kalian tau? Keesokan harinya pengganti bi ina sudah datang. Entah ibu dapat dari mana dia. Namanya bi ratih, umurnya mungkin yaa 3 tahun lebih muda dari bi ina. Dan tenyata dia adiknya bi ina, pantas saja ibu cepat mendapatkannya, dan wajahnya tidak jauh berbeda. Bi ratih bilang, bi ina sering menceritakan tentang aku jika bi ina sedang pulang kampung
“kata bi ina kamu itu anak yang cantik dan baik, ternyata benar, ayu tenan kamu ndo”
“he he he, ah bi Ratih bisa saja, bi Ratih juga cantik kok”
“iya, bi ina juga cerita katanya ayah ibu jarang di rumah ya?”
“iya bi, itu pasti. Mereka terlalu sibuk”
“ya udah jangan terlalu dipikirkan ya ndo, biarin aja. Kan mereka begitu buat kamu juga. Dulu bibi pegen banget masuk sma kaya kamu ini, tapi sekolahnya jauh. Bibi harus naik mobil dulu biar sampai kesana (mobil angkot maksudnya. Maklum, bi Ratih asli dari Jawa Tengah jadi masih agak mendok begitu bicaranya) tapi bibi ndak punya biaya jadi bibi bekerja aja di kampung”
“ya udah bibi ikut sekolah sama aku saja kalo gitu, he he he”
“ya ndak bisa lah ndo, bibi ini umurnya sudah berapa. Bibi kerja sajalah disini, ha ha ha. Sekarang giliran kamu sekolah yang rajin biar sukses seperti ayah dan ibu, ya”
“oke deh biii” kataku sambil memeluk bahu bibi yang sedang memotong wortel di dapur.
Singkat cerita, sejak aku di jakarta aku mulai bisa menghapus semua tentang rio. Hidupku sudah mulai kembali seperti saat sebelum aku bertemu dengannya. Aku senang, tapi kecewaku masih belum hilang seluruhnya.
Hari ini hari senin. Hari pertama aku sekolah, hari pertama aku menjalani ospek di sekolah baruku ini. Aku memakai keresek di kepalaku, membawa balon dan dikepang 15 ikatan di rambutku. Karena jumlah kepangannya harus sesuai dengan umurku. Ya aku lakukan saja semua itu, bagaimana lagi? namanya juga sekolah baru he he he. Saat mos (masa orientasi siswa) kelasku dibimbing oleh kakak pembimbing kelas 11, namanya revi. Dia baik, dan entah mengapa dia sering memperhatikan aku. Saat makan, saat games, saat baris, matanya selalu melihat ke arahku. Aku merasa biasa saja saat itu, karena memang mungkin kak revi begitu agar kelasku menjadi juara saat pemilihan kelas terkompak nanti. Tapi jika ada maksud lain entahlah, aku tidak terlalu memikirkan itu. Yang aku fikirkan adalah, kapan mos ini berkhir.
Hari ke dua, ke tiga dan ke empat. Ku jalani hari-hari saat mos dengan biasa saja. Tidak ada yang menarik disini. Hari ini adalah hari ke empat, hari di mana pengumuman dan pemberian hadiah kelas terkompak. Aku sih tidak terlalu berharap mendapatkan hadiah, karena aku yakin hadiahnya adalah piala, dan pasti pialanya hanya satu dan tidak bisa dibawa pulang. Tapi jika kelasku memang juaranya, ya pasti aku ikut senang kok. Saat itu seluruh siswa dan siswi peserta mos disuruh berbaris di lapangan sesuai kelas masing-masing. Aku pun berada di barisan kelasku. Aku melihat pak Bambng (kepala sekolah) sudah berdiri di podium dan menenangkan barisan-barisan yang ribut “anak-anak, dimohon untuk tenang. Baris yang rapi karena di hari masa orientasi siswa yang terakhir ini bapak akan mengumumkan kelas terkompak”
Semua pun tepuk tangan
“untuk apa mereka semua tepuk tangan? Mereka senang? Kenapa harus senang? Aneh!” Pikirku dalam hati
“iya, anak-anak di hari yang berbahagia ini, …, … blablablabla” kalian pasti tau apa yang dibicarakan pak Bambang, semacam pidato yang aku lupa apa isinya. Karena isi pidatonya itu sangat panjang. Aku saja sampai mengantuk.
“seperti janji bapak tadi, hari ini bapak akan mengumumkan juara kelas terkompak”
“SUDAH TAU!!” kataku dalam hati sambil mengantuk
“Dan kelas terkompaknya adalah dari kelas…”
“dari kelas…”
“dan juara kelas terkompaknya adalah…”
Mungkin pak Bambang fikir dengan dia mengulur-ngulur waktu seperti itu aku akan merasa DEG-DEGAN? Tapi kenyataannya TIDAK SAMA SEKALI. Aku malah SEMAKIN MENGANTUK.
“Dan juaranya adalah kelas 10-A, selamat untuk kelas 10-A. Untuk kakak pembimbing silahkan maju ke depan untuk mengambil piala penghargaan”
“HOREEEE!! Eh kelas kita juaranya? Ih bener gak sih? Iya tau kelas kita juara. Ih ya ampuuun aku gak nyangka” itu bukan kataku! Itu percakapan teman-teman perempuan yang sebarisan denganku.
“oh juara ya, ya selamat deh” kataku dalam hati
Setelah itu, barisan diperintahkan untuk masuk kelas dan segera dibubarkan. Saat aku masuk kelas, aku masih biasa saja. Aku sedikit senang karena aku bisa pulang lebih cepat dari kemarin. Mungkin karena hari ini hari terakhir mos. Sampai akhirnya ada yang menghampiri saat aku sedang membereskan tas ku
“hey, selamat ya” ternyata itu kak revi.
“selamat untuk apa kak?”
“selamat karena kelasnya sudah menang”
“oh iya kak, itu kan berkat adanya kakak juga sebagai pembimbing di kelas ini”
“ya, kalau siswa-siswinya tidak kompak juga pasti tidak akan menang”
“he he he, iya ya. Ya sudah sama-sama deh”
“oh iya, nama kamu indie ya?”
“iya, nama kakak revi kan?”
“iya kok kamu tau?”
“Basa-basi sekali orang ini, ya jelas lah aku tau dia revi, kan dia kakak pembimbing di kelas yang aku tempati. Dasar laki-laki” pikirku dalam hati
“haloooo” sambung kak revi karena aku belum menjawab pertanyaannya tadi.
“iya tau lah, kan kakak adalah pembimbing kelas 10-A”
“ha ha ha, iya. Aku kira kamu kepo”
“hahahaha” tertawa garing. Kalian tau kan rasanya mengantuk, ingin pulang, lalu tiba-tiba ada kakak kelas yang menghampiriku. Dan blablablaaa dia berbicara yang sangat tidak penting. Intinya aku LAPAR DAN NGANTUK!
“kamu pulang sama siapa?”
“dijemput kak”
“dijemput pacar ya?”
“dijemput angkot kak”
“oh naik angkot, memangnya rumah kamu dimana?”
“di komplek perumahan karang asih blok B no. 32”
“wah, berarti kita satu komplek, aku blok F. Mau sekalian gak indie?”
“boleh, memang tidak merepotkan kak?”
“ya nggak lah, kan satu komplek. Ya sudah aku tunggu di parkiran ya”
“okeee”
Lumayan lah, hari itu kan aku sangat lelah. Kalau menunggu angkot pasti lumayan lama dan pasti macet juga. Untung ada kak revi. Aku pun segera membereskan tas ku, dan berjalan menuju parkiran
“tet… tet…” suara klakson motor kak revi ternyata.
“ayo naik”
Aku pun naik ke motor kak revi, semacam motor besar lah, aku tidak tau apa nama jelasnya dan jenis motornya.
“kamu laper gak?” tanya kak revi
“emmm enggak kak, memangnya kenapa?”
“mau makan dulu?”
“oh tidak usah kak, nanti aku kesorean. Nanti ibu nyariin”
“oh oke deh kalau begitu, kita langsung saja ya”
“iya”

Salah (Part 1)

Yeeesss!!!! Akhirnya pulang sekolah juga. Setelah 5 jam aku bergelut dengan pelajaran di sekolah, akhirnya aku bisa pulang juga. Seperti biasa, bi ani yang sering menjemputku. Kadang kalau bi ani sibuk di rumah, sepedaku yang menemaniku. Kadang aku iri pada mereka yang bisa dijemput oleh orangtuanya ke sekolah. Mereka bisa dibawakan tas nya oleh ibu atau ayahnya. Sedangkan aku? Ibuku mungkin tak tau jam berapa aku pulang sekolah. Ayahku selalu sibuk dengan pekerjaannya. Aku sangat mengerti itu. Tapi tetap saja hati kecilku ingin ibu dan ayah ada di sini. Oiya aku lupa namaku indie, panggil saja aku kundi. Aku adalah anak tunggal dari ibu dan ayahku. Semua yang aku inginkan selalu terpenuhi. Kecuali waktu, aku tidak bisa menghabiskan waktu dengan ibu dan ayahku. Saat mereka pulang aku pasti sudah tidur, dan saat aku pergi ke sekolah pasti mereka belum bangun. Selalu bi ina yang ada di sampingku. Bi ina mungkin bisa kupanggil sebagai pengganti ibu.
Hari ini hari sabtu, sekolahku libur karena hari ini adalah hari pemilu. Karena umurku yang masih 10 tahun, aku tidak ikut pemilu. Hari ini aku membuat jadwalku sendiri. Hari ini adalah jadwalku bersepeda. Aku sangat suka bersepeda. Walaupun hanya keliling komplek, tetapi itu membuat hatiku tenang. Membuat rasa sepiku hilang. Tak lupa aku selalu membawa roti keju di dalam tempat bekalku. karena aku sering tiba-tiba lapar di perjalanan. Aku mulai mengayuh sepedaku dari blok satu ke blok lain. Nampak sepi di komplek ini. Bahkan tak ada yang menyapaku. Seperti kota mati yang tak berpenghuni. Hanya ada mobil dan motor saja yang sesekali melintas. Bosaaan. Aku pun turun dari sepedaku dan berhenti di pos satpam yang terkunci. Aku standarkan sepedaku dan aku duduk di teras pos satpam itu. Aku buka tempat bekalku dan aku makan roti keju yang ku bawa tadi. Rasanya tenang ditemani angin yang berhembus. Sesekali aku melihat ke arah rumah-rumah besar yang ada di depanku. Aku berfikir, sangat berlebihan sekali mereka yang membuat rumah seperti ini. Mengapa tanahnya tidak dibagi saja kepada anak-anak yang tidak punya rumah? Dan aku pun berfikir, mengapa ibu dan ayahku membuat rumah yang sebesar rumahku juga? Padahal hanya aku dan bi ina yang tinggal di dalamnya. Ayah dan ibu kan hanya numpang tidur saja.
Pandanganku pun terhenti pada sosok lelaki yang duduk di teras rumahnya sambil membaca buku. Nampaknya umurnya seumuranku, dengan kaos merah dan celana pendek yang dikenakannya. Siapa ya orang itu? Sepertinya aku tidak pernah melihatnya di komplek ini. Aku pun memandanginya lebih lama. Akhirnya dia melihatku. Tapi saat dia melihatku dia langsung memalingkan wajahnya dan masuk ke dalam rumah. Ada apa denganku? Apa aku terlihat menyeramkan? Apa aku seperti monster? Aku pun mencoba memanggilnya “hey, kamu” dia pun menutup pintu dan tak terdengar apa-apa lagi setelah itu. Akhirnya aku membereskan bekalku dan pergi pulang ke rumah, karena saat itu hari sudah sore. Aku takut bi ina mencariku. Sesampainya di rumah aku tidak berhenti memikirkan anak itu. “Dia aneh, dipanggil malah gak nyaut” gerutuku dalam hati. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaanku malam itu.
Keesokan harinya seperti biasa, aku pergi ke sekolah. Hari ini aku sendirian, bi ina tidak bisa mengantarku karena bi ina harus membantu ayah dan ibu mengemasi barang barang mereka. Karena ayah dan ibu harus pergi ke luar kota. Akhirnya sepedaku lah yang mengantarku ke sekolah. Sesampainya di sekolah, saat masuk ke kelas aku melihat dia. Ya, dia yang kemarin aku lihat. Dia yang memakai baju merah dan celana pendek. Sedang apa dia di kelasku? Aku panik, aku takut dia melihatku, jika dia melihatku nanti dia pulang ke rumahnya. Lebih baik aku pura-pura tak melihatnya saja. Aku duduk di bangkuku. Dan aku berharap dia tidak melihatku.
“TEEEEEETTT!!”
kamu tau itu bunyi apa?
Itu bunyi kentut.
Bukan, itu bunyi bel sekolahku. Saat bel itu berbunyi aku masih tetap duduk mematung di bangku tempatku duduk. Sampai bu guru datang
“selamat pagi anak-anak”
“selamat pagi ibu”
“sebelum belajar kita berdoa dulu ya, berdoa mulai…”
”Selesai”
“amin”
“anak-anak, hari ini kalian kedatangan teman baru, namanya rio. Rio, silahkan maju ke depan nak, perkenalkan diri kamu pada teman-teman”
Aku pun mulai panik. Rio? Siapa rio? Apa anak itu namanya rio? Apa dia anak baru? Apa dia akan bersekolah disini dan sekelas denganku? Bagaimana kalau dia bilang kepada teman teman kalau aku monster? Nanti aku tidak punya teman. Aku kan bukan monster. Bagaimana ini? BAGAIMANA?!!!
“nama saya Rio, saya baru saja pindah dari jakarta. Saya pindah ke sini karena suatu hal yang saya tidak bisa ceritakan. Terimakasih”
“loh rio, kok pekenalannya begitu?” tanya bu guru sambil mengerutkan keningnya.
“apa sudah boleh saya kembali ke bangku saya bu?”
“oh ya sudah kalau begitu” rio pun kembali duduk dengan wajah yang datar dan biasa saja.
“baiklah anak-anak, kita mulai pelajaran hari ini…”
Aku bingung, mengapa dia seperti itu, ekspresinya datar sekali. Sifatnya dingin dan agak misterius. Sepertinya dia tadi melihatku. Tapi kenapa dia tidak pulang ke rumahnya ya. Aku pun memandanginya dari tempat dudukku. Pandangannya hanya tertuju pada papan tulis tempat dimana bu guru menerangkan. Tapi tiba-tiba… dia menoleh ke arahku. “AAARRRGGGHHH” aku maluuu!!!
Aku pun membalikkan kepalaku dan berpura-pura tegar.
Sepulang sekolah, aku pulang dengan sepedaku. Hari sudah gelap, aku lupa membawa jas hujan. Tapi semoga saja tidak hujan. Aku pun mengayuh sepedaku dengan kecepatan tinggi. Aku kan sudah ahli, aku pasti baik-baik saja. Saat di tengah perjalanan hujan turun dengan sangat deras, aku pun bingung harus berteduh dimana, karena saat itu tidak ada warung atau apapun yang bisa dijadikan tempat berteduh. Karena sudah habis akal, ku kayuh saja sepedaku sampai ke rumah. Tetapi karena terlalu bersemangat dan karena aku tidak mengontrol kecepatan sepedaku, aku tergelincir dan jatuh. Tanganku menghantam trotoar jalan komplek. Dan tulang keringku terbentur pepohonan kecil yang tumbuh di sepanjang trotoar komplek. Astagaaa sakit sekali. Ingin menangis rasanya. Aku tidak kuat untuk bangun. Aku pun pasrah dan duduk di trotoar komplek. Memakai seragam putih merah, sendirian dan hujan. Saat hujan turun tak terasa ternyata aku sudah menangis dari tadi. Hanya aku bingung memastikan yang mana air mataku dan yang mana air hujan.
Dari kejauhan aku melihat seseorang sedang berjalan menggunakan payung. Memakai seragam sekolah yang sama sepertiku. “Tunggu, sepertinya aku kenal!” pikirku. Sedikit demi sedikit orang itu mendekat. Ternyata rio. Aku ingin sekali minta tolong. Tolong bantu aku berdiri dan antar aku ke rumah. Tapi dia tidak mungkin mau menolongku. Saat sudah dekat, aku berharap dia akan berhenti dan menolongku. Tetapi, teryata tidak. Melihatku saja sepertinya dia tidak. Dia malah melewatiku seperti tidak kenal. “ah sudahlah, untuk apa aku mengharapkan pertolongan dari orang seperti dia, dia tidak mungkin menolongku. Dasar orang jahat!” gerutuku dalam hati.
Setelah dia berlalu, aku tidak memandanginya lagi. aku hanya meratapi jalanan yang sepi dan berharap bi ina lewat di depanku. Lalu tiba-tiba air hujan tidak menetes lagi di kepalaku. “ada apa ini?” pikirku. Saat aku melihat ke atas, ternyata itu rio! Aku benar benar kaget. Sekaligus aku lemas karena aku sudah sangat kedinginan.
“berdiri kamu!”
“gak bisa.”
“dasar manja!”
“bantuin.”
“beneran gak bisa atau biar dibantuin?”
“aku gak kuat, kaki aku sakit!”
“manja! Sini pegang tangan aku!”
Aku pun akhirnya bisa berdiri. Rio sama sekali tidak menatap wajahku. Kenapa sih dia? Sebegitu jeleknya kah wajahku ini sampai dia tidak mau melihatku??!!!
“kamu pake sepeda?”
“iya, kamu bisa tolong bawakan?”
“kalau disini banyak orang, aku gak bakalan tolong kamu!”
“kamu gak ikhlas? Kalo gak ikhlas lebih baik gak usah.”
“udah deh naik!”
Rio pun memboncengku pakai sepedaku. Hari itu entah namanya hari apa. Karena aku yakin sehabis tragedi ini aku pasti sakit. Rio berhenti di teras ruko yang tutup di pinggir komplek.
“kok berhenti disini?” kataku
“kamu kedinginan kan? Ini pake dulu” rio melepaskan jaketnya dan memberikannya padaku.
“kamu gimana?”
“jangan sok perhatian, udah pake aja. Tapi nanti kembalikan ya!” Jawab rio ketus
“iya, udah. Yaudah yuk kita lanjut lagi. aku ingin pulang” sambungku.
“kamu gak lihat ini hujan masih besar! Apa gak bisa nunggu sebentar? Kalo kita pulang sama saja bohong! Nanti kita berdua basah! Lalu untuk apa aku pinjamkan jaketku untukmu kalau akhirnya harus basah-basahan lagi?”
Aku hanya diam dan diam. Rio nampak terlihat lelah. Sebenarnya dia bisa pulang duluan kalau dia mau. Toh dia kan membawa payung. Tapi dia baik juga, dia mau menolongku dan menemaniku disini. Aku jadi merasa bersalah sudah bilang dia jahat. Ternyata dia tidak terlalu jahat. Eh tapi dia memang jahat! Tapi, ah sudahlah untuk apa aku pikirkan ini. Mau baik mau jahat dia tetap aneh di mataku!
“rio, boleh aku tanya?”
“ya, apa?”
“aku melihatmu waktu itu di depan rumahmu sedang membaca buku, kamu lihat aku tidak?”
“nggak”
“ah bohong”
“ya sudah kalo gak percaya”
“kamu benar tidak lihat aku?”
“ENGGAK, udah diem deh! Nanti malah aku berubah pikiran! Kamu mau, pulang naik sepeda sendirian dengan kaki dan tangan yang sakit begitu?”
Aku pun menggelengkan kepala, “galak amat sih, kesel!” gerutuku dalam hati
Hujan pun berhenti dan rio mengantarku pulang. Saat di perjalanan kepalaku sudah sangat pusing. Aku menggigil. Kulit di tanganku berkerut. Bibirku pucat. Aku benar benar sangat sangat sangat kedinginan.
“rio” panggilku dengan nada sangat lemas
“apa lagi?”
“aku pusing”
“jangan pusing! Nanti kamu jatuh! pegangan!” Aku pun memegang pinggang rio.
“tas kamu mana? Sini aku yang bawa” aku pun memberikan tas ku kepada rio
“rio” untuk kedua kalinya, masih dengan nada yang sama
“apa lagi kundi”
Aku kanget betul. Itu kala pertama dia sebut namaku. Dari mana dia tau namaku? Ah sudahlah untuk apa aku pikirkan, toh kita kan sekelas, pasti dia tau namaku lah.
“jaket kamu basah”
“ya sudah nanti cuci di rumahmu!”
“rio…” ketiga kalinya dan masih lemas
“apa lagiii!!”
“makasih ya”
“iya!”
Ya Tuhan.. orang ini aneh sekali. Jawab sama-sama saja tidak. Dasarrr rio! Kamu aneh sekali. Super super aneh sekali.
Sesampainya di rumah, rio memarkirkan sepedaku di garasi. Bi ina kaget sekali saat melihat aku diantar rio, dan aku sangat kebasahan. Bi ina menyuruh rio mampir ke rumah untuk ganti baju atau sekedar minum teh hangat agar rio tidak terlalu kedinginan. Tetapi rio menolak dengan alasan sudah terlalu sore. “baiklah rio, terimakasih” itu kata-kata yang aku ucapkan dalam hati saat rio melangkah pulang dari halaman rumahku. Karena kalau aku bicara langsung pasti hanya dijawab “IYA”.
Betul saja, malam itu badanku panas dan lidahku pahit. Bi ina segera menelpon dokter. Untung saja aku hanya demam biasa. Kata dokter, setelah makan obat juga demamku akan turun, dan besok aku bisa sekolah seperti biasa. Dokter juga bilang, memar di kaki dan tanganku hanya memar biasa, akibat benturan yang cukup keras. Tapi memarnya akan cepat hilang. Aku merasa lega, ternyata aku baik-baik saja. Malam itu, aku pun tidur dengan perasaan yang.. entah apa namanya.
Keesokan harinya, aku pergi ke sekolah diantar bi ina. Saat sampai ke kelas, aku tidak melihat ada rio disana. Aku melihat bangkunya kosong. Ku pikir dia akan terlambat, ternyata hari itu dia benar-benar tidak masuk sekolah. Aku pun bertanya-tanya pada diriku. Ada apa dengan rio? Apa dia sakit? Pasti dia sakit karena mengantarku kemarin. Aku jadi merasa bersalah. Aku harus menjenguknya! Iya harus! Nanti sore aku akan ke rumahnya. Seharian di sekolah, aku berharap 1 jam itu menjadi 5 menit. Aku ingin lebih cepat pulang. Aku ingin tau kenapa rio tidak masuk. Jika dia benar-benar sakit karena mengantarku pulang kemarin, ya Tuhan berdosanya aku ini.


Raka, My Love Bestfriend

Aku mempunyai seorang Sahabat bernama Raka, Aku sangat-sangat menyayanginya.
Angin berhembus kencang, Ku buka mataku perlahan, kemudian aku bergegas wudhu dan menunaikan sholat subuh.
Selesai itu, aku mandi dan bergegas untuk ke sekolah. Aku pamit dan berangkat bersekolah bersama ayahku.
Sesampainya di sekolah, aku mengucapkan selamat ulangtahun kepada temanku yang berulang tahun hari ini.
Bel pun berbunyi, kami segera masuk kelas dan belajar seperti bisa. Aku pun bermain seperti biasa, bersama teman-temanku, termasuk Raka.
Tak terasa waktu terus berjalan, Bel pulang pun berbunyi. Ku rapikan bukuku dan bergegas pulang bersama teman-temanku.
Sesampainya di rumah aku segera makan, dan kembali mempelajari pelajaran yang diajarkan di sekolah tadi.
Aku baru ingat, hari ini Raka juga ulangtahun. Aku mengambil HPku, lalu mengirim pesan padanya. “Happy Birthday, Ka. Cie yang udah tambah tua. Nggak traktir aku nih”. isi pesanku “Kamu sih, tadi nggak mau ikut aku” jawab Raka. “Hehe… Masa aku ngeganggu acara kau sama teman-teman kamu sih…” jawabku. “nggak apa-apa kali… kamu kan juga sahabat aku” “oh iya, aku mau sholat dulu, udahan dulu yah smsnya” pintaku. “oke” jawab Raka.
Tidak terasa, magrib pun menjelang, aku segera menghadap kepada Sang Pencipta. Setelah itu, ku tatap layar hpku, karena ada pesan yang muncul. “Udah Sholatnya, Cha?”. Ternyata, itu sms dari Raka. “Udah, ada apa Ka?” tanyaku. “Jalan Yuk. Aku traktir deh. Buruan siap-siap.” jawabnya. “Kemana? Tadi aku cuma bercanda kali…” isi pesanku. “Udah, jangan banyak bacot, Aku ke rumah kamu yah sekarang” pesan dari Raka.
Aku kan cuma bercanda tadi, tapi Raka nganggepnya serius. Ya sudahlah, tuh anak kalau bilang mau datang pasti langsung datang ke rumahku. Aku pun bersiap-siap. Tak lama kemudian terdengar bunyi bel pintu. Aku segera membukanya, ternyata itu Raka.
“mama kamu mana? aku ijin dulu yah…” kata raka. “Di dalam tuh” kataku. Raka yang sudah terbiasa dengan suasana rumahku pun masuk ke dalam dan meminta ijin kepada mamaku. Padahal mamaku kan sudah sering bilang sama dia, yang penting jangan pulang kemalaman.
“oke, jalan yuk” ajak Raka seraya mengajakku naik ke motornya. Aku pun naik ke motor kesayangannya yang berwarna merah hitam itu.
Kami pun tiba di sebuah cafe. Ternyata Raka sudah memesan tempat khusus.
“Cha, aku mau ngomong sesuatu ke kamu.” kata Raka. “Ngomong aja kali, biasanya juga kan kamu langsung ngomong tanpa minta ijin dulu.” jawabku sinis. “Tapi kamu jangan marah yah” pintanya. “Raka Pratama Ramadhan, Ngapain aku marah sama sahabat aku sendiri.” jawabku. “sebenarnya aku tidak suka melihat wajahnya yang kelihatan muram. Jadi aku mencoba untuk mengubah aura wajahnya. “Aku bakalan ninggalin kamu, jauh banget.” dengan suara lemah lembut raka pun berbicara sambil memegang pundakku. Saat itu, hatiku serasa tak berdetak secara beraturan. Ku tarik nafas dalam-dalam. Aku tak ingin Raka pergi jauh dariku. Aku memberanikan diri untuk bertanya. “Kamu mau kemana, Ka?” “Aku mau pergi ke tempat yang jauuuuh banget” jawabnya. Sekali lagi, perasaan yang tak terlukiskan menghampiri hatiku. “maksud kamu apa, Ka?” Tanyaku. Raka hanya tersenyum.
Flashback
Raka terkena serangan jantung saat kecil. Dan belakangan ini penyakitnya sering kambuh
Flash back end
Aku masih tidak mengerti apa yang Raka katakan. Ku cerna baik-baik kata yang Raka ucapkan. Apa penyakitnya sudah separah itu. Aku kembali bertanya kepada Raka. “Ka, please, jawab aku, maksud kamu itu apa?” tanyaku. “Udah, kamu lanjutin aja makannya” kata Raka. Bagaimana bisa aku makan, aku terus memikirkan kata yang tadi dia ucapkan. Aku takut, dia akan pergi untuk selamanya. Aku pun menunduk dan terdiam. Raka pun segera menarik tanganku. “Kamu nggak apa-apa?” tanya Raka padaku. Aku hanya terdiam. Aku masih memikirkan kata-katanya.
Beberapa menit kemudian aku pun mengajaknya pulang, dan kami segera pulang. Sesampainya di rumah, aku masih memikirkan perkataan Raka. Maksudnya apa? Aku masih tidak mengerti.
Tiba-tiba HPku pun berbunyi. Itu telefon dari bundanya Raka. Aku pun segera mengangkatnya. “assalamu’alaikum…” ucapku, seraya memberikan salam. “Wa’alaikumsalam. bisa bicara dengan Icha?” tanya bunda Raka padaku. “Ini dengan Icha, Bunda. kalau saya boleh tau, ada apa yah?” tanyaku penasaran. “Begini Cha, tadi sehabis mengantar kamu, Raka mengalami kecelakaan, dan sekarang dia sedang koma di rumah sakit.” jawab bunda Raka. Tanpa sadar aku terdiam seperti patung tanpa menutup telefon dari bundanya Raka. Apakah ini maksud dari perkataan Raka saat di cafe tadi? Aku tidak ingin dia pergi secepat ini. Aku pun bergegas ke rumah sakit.
Dari jauh, kulihat bunda Raka duduk di sebuah kursi. Hatiku pun semakin takut, takut kehilangan sahabat yang paling aku sayangi selamanya. Aku segera menuju ke tempat dimana bunda Raka duduk. “Eh Icha…” sahut bunda Raka “Bunda, Raka nggak bakal kenapa-napa kan?” tanyaku. Aku sangat takut, kalau dia benar-benar pergi. Tetapi senyum dan kata-kata bunda Raka dapat menghilangkan rasa ketakutanku. “Raka pasti baik-baik saja kok, Allah pasti masih menyayanginya” bunda Raka berusaha menyemangatiku karena dari tadi aku memasang wajah ketakutan. Aku berdoa sepanjang penantianku. Aku berharap Raka akan baik-baik saja.
Tak lama kemudian, Dokter pun keluar, dia mengatakan kalau Raka sudah melewati masa kritisnya. Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah aku masih bisa berada di samping Raka. Aku segera masuk dan duduk di samping Raka, akan tetapi kulihat Raka masih saja menutup matanya, aku menunggu dan terus menunggu, tapi tak ada tanda-tanda dia akan sadar. Aku pun meminta bunda Raka untuk beristirahat di rumah, karena aku lihat bunda Raka sangat kelelahan.
Aku masih terus menunggu Raka, Ya Allah tolong selamatkan sahabatku ini.
Tak lama kemudian, Raka pun sadar. Aku segera memeluknya dan menangis bahagia. Terimakasih Ya Allah, Engkau telah mengabulkan doaku.


Salam Perpisahan

Afi duduk termenung di taman. Suasana hatinya tak karuan. Beberapa menit kemudian Pinka datang menghampiri Afi.
“kenapa merenung?” tanya Pinka seraya duduk di samping Afi.
“aku sedih, akhir-akhir ini Dimas sengaja menjauihiku. Aku merasa ada masalah yang disembunyikan Dimas dariku”
“yeah mungkin cuma perasaanmu saja” sahut Pinka simpatik.
“aku juga berharap begitu” Afi tertunduk lesu.
“sudah kamu tanyakan sama orangnya?” Afi menggeleng. “harusnya kamu tanya donk. Jangan dipendam sendiri, itu wajahmu kayak bebek cemberut gitu” mereka tertawa.
Tak disangka-sangka Dimas menghampiri Afi dan Pinka.
“hay..” Dimas tersenyum terpaksa.
“hay. Kalian ngobrol aja dulu aku mau beli minuman bentar..” sahut Pinka seraya berjalan menjauh.
Kini hanya mereka berdua. Suasana tampak sunyi. Hanya suara burung dan gemercik air yang terdengar.
“fi, aku minta maaf kalau selama ini aku menjauh dari kami. Tapi aku gak bermaksud begitu. Aku cuma…” ditatapnya Afi yang mulai tak kuasa menahan air matanya.
“Cuma apa? cuma buat aku sedih?” Afi terisak pelan nafasnya naik turun menahan emosinya.
Dimas meletakkan tangannya di pundak Afi namun Afi melepasnya dengan kasar. “Cuma apa?” suara Afi meninggi.
“mafin aku, mulai besok kita gak bisa ketemu lagi. Papaku pindah tugas dan aku harus ikut.” Dimas memandang Afi dengan perasaan bersalah. Bersalah karena menjauhi dan karena harus berpisah.
“jadi kita gak bakal ketemu lagi?” Dimas mengangguk.
“kita sudah 15 tahun kamu pasti ngerti posisiku, jika aku bisa aku pasti nolak. Tapi aku gak bisa.” Tangis Afi mereda. “aku akan selalu ingat kamu, bagaimanapun sibuknya aku, kamu tetap sahabat terbaikku, kemarin, hari ini, dan selamanya”
Afi memandang Dimas lekat-lekat. “janji?”
“aku janji” Dimas mengangguk. “aku pamit fi, salam buat papa mamamu dan Ari aku pasti kangen banget sama kalian” Afi mengangguk dan air mata mengalir dari celah matanya. Dimas berjalan menjauh.
Pinka menghampiri Afi dengan membawa 3 botol minuan yang dibelinya di warung pinggir jalan.
“lho Dimas mana? tadi disini kan” tanya Pinka heran. Tangis Afi meledak.
“lho kenapa kamu malah nangis?”
“sa…la..mmm… per…pisah…annnn da..rii di..mas”
Afi menangis sejadi-jadinya di pundak Pinka mengenang kata-kata Dimas yang menyentuh hati kecilnya.


3 Hadiah Ulang Tahunku

Sahabat perkenalkan aku Milly, dan aku punya sahabat Niki, Niki itu sahabat aku dari SMP loh tahan lama kan persahabatan aku sama dia, dan aku punya pacar namanya Rio dia juga pacar aku dari SMP loh, jadi kita bertiga sudah sangat saling kenal. Kebenaran dua hari lagi aku akan ulang tahun dan aku tahu pasti Rio dan Niki punya kejutan buat aku.
Sore ini Niki mengajakku pergi ke toko buku, dan dia membeli buku tentang persahabatan ketika aku bertanya itu untuk apa tapi dia tidak menjawabnya dengan serius, ya sudahlah selesai itu kami pulang ke rumah masing-masing.
Di perjalanan pulang tiba-tiba hujan besar kami tidak membawa payung dan juga tidak berteduh. Sesampai di rumah Mamanya Niki menelponku untuk memberi tahu bahwa Niki sakit dan besok dia tidak bisa masuk sekolah.
Esok hari pun tiba, hari ini adalah hari ulang tahunku dan aku senang bisa semakin dewasa. Pagi ini Rio menelponku dan ia mengabarkan bahwa ia telah di Austria untuk tinggal disana bersama keluarganya yang juga bekerja disana, saat itu aku sedih, marah dan kecewa karena ia tidak ada di hari ulang tahunku tetapi itu masih bisa aku terima dan aku mengatakan bahwa ini hadiah pertamaku, dan masih ada yang istimewa lagi yaitu Niki. Tetapi mungkin ia juga tidak dapat memberi kejutan kepadaku karena pagi ini hujan dan ia juga masih sakit.
Lalu bunyilah bel rumahku dan aku buka pintu ternyata Niki datang ke rumahku membawa kado tetapi ia kehujanan dan aku langsung memeluknya dan menceritakan bahwa Rio sudah tidak lagi di Indonesia melainkan di Austria, lalu aku ambilkan handuk untuk Niki dan ketika ku kembali ke ruang tamu ia menghilang tak tahu kemana.
Tiba-tiba teleponku berbunyi dan ternyata itu kakaknya Niki (Nayla) mengabarkan bahwa Niki sudah tidak ada dan Niki juga sudah lama mengidap penyakit lain yang jika terkena air hujan dapat menyebabkan demam tinggi, dan saat mendengar kabar itu aku tertawa karena tidak percaya dan aku menyangka bahwa ini kejutan yang diberi Niki untuk ulang tahunku tetapi Kak Nayla membantah bahwa ini tidak bercanda, aku pun tetap tidak percaya, dan akhirnya Kak Nayla datang ke rumahku untuk memberikan kado yang dititipkan Niki sebelum ia pergi. Dan isi kado itu adalah Buku Persahabatan, foto-foto Niki dan aku dan juga berisi surat yang isinya “Milly sahabatku Happy Birthday ya semoga kamu panjang umur dan selalu menjadi sahabatku selamanya, kamu adalah sahabat istimewaku, terimakasih ya sudah sempat menjadi sahabatku untuk selamanya walaupun aku yang pergi duluan ninggalin kamu, maaf juga ya aku gak pernah memberitahu tentang penyakitku, simpan ya hadiah dari aku, aku kamu sahabat selamanya”.
Inilah hadiah kedua dan ketiga untukku. Bagiku ini sangatlah membuatku kecewa kenapa harus ia duluan yang pergi meninggalkanku, dan aku semakin sedih di hari ulang tahunku karena kedua orang istimewa itu tak sengaja pergi begitu saja meninggalkan aku bersama di hari ulang tahunku yang ke-16 ini. Kemarin aku berfikir bahwa hari ini adalah hari istimewaku bersama kedua orang teristimewaku tetapi itu semua sangat berbeda jauh dengan apa yang aku fikirkan di hari istimewaku.


Ambilkan Rapor Bu

Setelah selesai ulangan akhirnya kepalaku lega, ambil es batu, taruh di dahi. Rasanya seperti ada di negara penguin. Seluruh mata pelajaran yang jadi target ulangan dalam seminggu ini sudah selesai kami kerjakan dengan bekerja keras. Tinggal satu momen lagi yang harus ditunggu, yaitu NILAI RAPOR.
“Andi, ayo bangun. Nanti kamu telat ke sekolah lo” kata Ibu dengan ramahnya.
“Hari ini aku gak sekolah bu, para orangtua disuruh ngambil rapor” jawabku.
“Hah?!! Kok baru bilang, ibu harus siap-siap nih. Kamu juga harus ke sekolah, supaya kamu lihat hasil jerih payahmu minggu kemarin”.
“Heh, jerih payah minggu kemarin maksudnya ulangan ya?”.
“Ya iyalah masa ya iya dong”.
“Hmm… ibu sudah terkena syndrome alay. Kebanyakan nonton sinetron sih”.
Sesampai di sekolah, para orangtua sudah berkumpul di aula untuk mendengarkan apa yang disampaikan kepala sekolah, sedangkan para murid disuruh duduk di kelas masing-masing. Dan di kelas itu semua murid pada bicara sesuka hati, kecuali aku.
“Cih… aku harus sabar. Diam sebentar tidak akan lama, setelah ini wali kelas dan orangtua akan masuk ke kelas ini dan semua murid disuruh bubar, mungkin aku jalan-jalan di taman sekolah saja daripada berkumpul bersama teman sekelas yang banyak bicara ini” kataku bicara sendiri, apa aku gak gila sekarang ini ya?
Setelah pemberitahuan dari kepala sekolah selesai, para murid disuruh duduk di depan kelas karena wali kelas akan membagikan rapor kepada orangtua.
30 menit kemudian, semua rapot sudah selesai dibagikan.
“Sini rapornya, ibu!” kata Andi dengan gelisah, ia takut kalau-kalau ada nilai yang rendah, jika nilai itu ada, telinga Andi akan memanjang, bukan hidung saja.
“Tenang dulu Andi” kata Ibu sambil memberikan rapornya kepada anaknya itu.
DEG DEG DEG…
Nilai paling rendah dari semua mata pelajaran, yaitu 65 pas KKM…
Andi melontarkan senyumnya pada ibunya dan berkata “Siang ini kita makan ayam panggang ya bu”.
Ibu hanya tersenyum ramah.
TAMAT


Misteri Pesan Chand

Bruuuk… “aduh sakit”, keluh Dita saat mendapati tubuhnya terjatuh dari tempat tidur. Dengan sedikit kesal, dita beranjak dari tempat tidur menuju sofa kesayangannya yang terletak di ruang tamu. Duduk termenung sambil merenungi mimpi yang telah membuatnya terjatuh dari tempat tidur, sampai-sampai kepalanya terbentur. “Kenapa yah, akhir-akhir ini aku selalu memimpikan Chand? apa ada suatu hal buruk yang terjadi padanya?” dita terus bertanya-tanya dalam hati. Tiba-tiba khayalan dita tentang sahabatnya buyar seketika saat Handphone yang berada di saku celana dita bergetar dan mengagetkannya.
“Hallo yo, ada apa?” tanya Dita dengan singkat.
“Dit… aku merasa ada suatu hal buruk yang terjadi pada Chand” jawab Tio dibalik Handpone.
“Kayaknya apa yang kamu risaukan sama denganku, tau nggak akhir-akhir ini aku sering memimpikan Chand yang terus meminta tolong sama aku. Di mimpiku chand selalu minta tolong karena hampir tenggelam, padahal chand kan jago kalo masalah berenang, tapi mimpi itu terasa nyata aku lihat” ucap dita pada sahabatnya tio
“Apa…? kok mimpi kita sama sih dit?” jawab tio dengan nada keheranan.
“Yo… aku khawatir nih sama chand, saat ini kan dia memang berada di laut, coba deh kamu telpon dia!” pinta dita dengan nada khawatir.
“Tunggu dulu aku confren, mudah-mudahan handphonenya aktif”.
Selang lima menit menunggu, suara tio muncul kembali. “Dit… handphone chand nggak aktif, sudah berulang kali aku hubungi tapi hasil sama”.
Akhirnya percakapan mereka berdua pun berakhir saat suara salam dari luar rumah dita yang dari tadi dita dengar tapi belum sempat membukakan pintu karena lagi serius membahas tentang dhion sahabatnya.
“Walaikum salam, oh kamu bil, maaf kelamaan buka pintunya” jawab dita dengan sedikit cengegesan.
“Emang kamu ngapain aja tadi, sampai-sampai salamku ngak dijawab pintu rumah pun nggak dibuka?” tanya billy dengan sedikit heran.
“Maaf bil, tadi itu aku dan tio lagi membahas chand”, spontan billy membungkam mulut dita.
“Dit… aku yakin ada hal buruk yang sedang terjadi pada chand deh, bukannya mendoakan tapi firasatku ngak enak”. melotot memandangi billy sambil melepaskan tangan billy yang dari tadi membungkam mulutnya sampai susah bernafas.
Seketika dita pun mengambil handponenya yang baru ia letakkan di atas meja, menekan tombol dan menunggu jawaban dari seseorang yang ia telepon. “Kamu ke rumah sekarang yah, nggak pakai lama” perintah dita dengan singkat pada seseorang yang ia telepon.
Tak lama kemudian tio datang dengan tergesa-gesa… “dit… dita” panggil tio dengan suara keras.
“Iya… yo, aku dan billy sekarang di ruang tamu jadi kamu langsung kesini saja”.
Mereka bertiga pun sepakat ke rumah chand yang letaknya tak jauh dari rumah mereka masing-masing. Billy, chand, tio dan dita sahabatan dari kecil mungkin karena jarak rumah mereka yang berdekatan dan masing-masing orang tua mereka juga sangat akrab antara yang satu dengan yang lainnya. Jadi ngak salah kalau mereka menjalin suatu persahabatan sejati yang mereka namakan Always Together. Di antara mereka berempat, cuma dita yang paling cantik. “Heheheh… ya jelas kan cuma dita satu-satunya perempuan di antara personil Always Together”, hibur dita disaat mereka lagi ada masalah. Disaat itulah dita dikerebutin 3 cowok gagah yang siap mengacak-acak rambutnya sambil berkata “ihhh… dita narsis deh” sambil mencubit pipi dita yang chubbi.
Sekitar 20 menit mereka bertiga mondar-mandir di depan rumah chand yang sepi dan kayaknya tante Anisa lagi pergi. “Muka kamu kok ditekuk sih dit?” tanya billy dengan sedikit heran.
“Hhhmmm… sebenarnya ada pesan dari chand untuk ibunya yang belum sempat saya sampaikan karena terlalu sibuk dengan tugas kuliah”.
“Emang apa pesannya?” tanya billy dan tio kompak dengan muka penasaran.
Belum sempat dita jawab, tiba-tiba tante Anisa yang tak lain adalah ibunya chand datang. “Ehhh… tante, kalo boleh tau tante dari mana? sudah lama loh tante kita menunggu disini, untuk ketemu sama tante”. tanya dita dengan muka cemas.
“Tante dari rumahnya nak billy” tante Anisa menjawab dengan suara terisak tangis.
“Maaf tante”, ucap dita sambil memapah tante Anisa yang kondisinya tidak stabil saat itu. Sambil meyandarkan tante anisa ke sofa yang posisinya tidak jauh dari pintu masuk rumah, dita menyuruh tio mengambil segelas air putih untuk tante Anisa.
“Tante… baik-baik aja kan? kami khawatir melihat muka tante yang pucat”. tanya dita dengan muka penuh rasa cemas”.
Belum sempat tante anisa menjawab, tiba-tiba si billy ceplos dan menceritakan maksud dan tujuan mereka bertiga datang kemari. “Sebenarnya sebelum chand pergi berlayar dia sempat menitip pesan sama dita tante, chand berpesan agar dita dan teman-teman menjaga tante dan sering menjenguk keadaan tante. Maaf tante kalau pesan ini baru sempat dita sampaikan, karena akhir-akhir ini dita dan teman-teman sering bermimpi tentang chand. Dalam mimpi pun chand selalu berpesan agar kami semua menjaga tante dengan baik, seakan chand itu tidak akan kembali lagi”. ucap dita panjang lebar sambil menitikan air mata.
“Barusan tante dapat telepon dari Tarra, dia mengabarkan kalau ternyata chand menhilang di kapal tanpa jejak. Berulang kali tarra menelpon chand tapi handphone chand tidak pernah aktif”. ucap tante anisa sambil menangis tersedu-sedu mendengar kabar buruk tentang anaknya yang hilang.
“Apa tante…” spontan dita, tio dan billy kaget mendengar kabar buruk itu.
“Tante yang sabar yah!!!” ucap dita sambil memeluk tante anisa.
Tiba-tiba handphone billy berbunyi dan itu telepon dari kak tarra, yang tak lain adalah kakak dari chand.
“Halo… Assalamualaikum, ada apa kak tarra?”
“walaikumsalam… bil, kak tarra mau minta tolong. Bisa tidak kamu sekarang ke rumahku soalnya kakak mau cerita sama ibu”. pinta kak tarra pada billy sambil memohon.
“Kebetulan kak saya dan teman-teman sekarang ada di rumahnya kakak, tunggu yah kak”. Sambil menyodorkan handphonenya pada tante anisa “tante… kak tarra mau cerita sama tante”.
Firasat buruk langsung merasuk dalam tubuhku seketika saat kupandangi wajah tante anisa yang begitu kosong dan hampa sampai-sampai dia pingsan setelah mendapat telepon dari kak tarra. Berulang kali dita mencubit pipinya untuk menyakinkan dirinya, apakah ini cuma mimpi atau kenyataan? sempat tidak percaya dengan kabar yang barusan dia dengar dari kak tarra, tapi ini benar-benar sudah terjadi. Sahabat yang mereka rindukan dan cemaskan akhir-akhir ini telah pergi untuk selamanya. Tanpa sadar dita menjerit histeris dan menangis meratapi nasib sahabatnya yang meninggal dengan cara tragis. Yang tidak bisa dita terima atas kepergian sahabatnya chand yang begitu cepat dan tragis sehingga menimbulkan tanda tanya besar baginya.
Dita tidak menyangka kalau ternyata pesan dan amanah chand itu merupakan ucapan perpisahan terakhir dari sahabatnya. Chand yang ia kenal sejak kecil sampai sekarang dan merupakan sahabat terbaiknya adalah sosok pemuda yang baik, ramah, royal dan pendiam. Kejadian tragis yang dialami chand sampai meninggal merupakan pukulan terberat yang harus dita, sahabat dan keluarga chand terima dengan tangis pilu. “Selamat jalan sobat… semoga kamu tenang di alam sana”. ucap ketiga sahabat chand  yang saat itu menaburkan bunga di atas batu nisan sahabatnya. Sambil tersenyum menatap langit yang dihiasi pelangi, saat itu juga dita dan teman-temannya berjanji akan mengukir nama chand sebagai sahabat terbaik di hati mereka.


Twink Twice

Don't think I can't feel there's something wrong
You've been the sweetest part of my life so long
I look in your eyes, there's a distant light
And you and I know there'll be a storm tonight
This is getting serious
Are you thinking 'bout you or us

Don't say what you're about to say
Look back before you leave my life
Be sure before you close that door
Before you roll those dice
Baby think twice

Baby think twice for the sake of our love, for the memory
For the fire and the faith that was you and me
Babe I know it ain't easy when your soul cries out for higher ground
'Cos when you're halfway up, you're always halfway down
But baby this is serious
Are you thinking 'bout you or us

Don't say what you're about to say
Look back before you leave my life
Be sure before you close that door
Before you roll those dice
Baby think twice

Baby this is serious
Are you thinking 'bout you or us

Don't say what you're about to say
Look back before you leave my life
Be sure before you close that door
Before you roll those dice

Don't do what you're about to do
My everything depends on you
And whatever it takes, I'll sacrifice
Before you roll those dice
Baby think twice