Ripani semakin mengeratkan pelukanya pada kedua kakinya saat petir yang menggelegar itu kembali terdengar dalam indra pendengaraya. Air matanya kembali mengalir saat hujan di luar sana kembali turun dengan derasnya seolah ikut merasakan apa yang tengah ia rasakan saat ini. Sesak, sungguh rasanya sangat sesak seakan ia sudah tidak bisa bernafas dengan benar saat ini karena air mata yang sudah
tumpah membasahi wajahnya sejak dia pulang sekolah dan mengurung dirinya di kamar. Dia semakin mengeratkan
pelukanya di kedua kakinya saat dia merasakan tubuhnya yang semakin bergetar seiringan dengan air mata yang semakin mengalir dari matanya. Mereka? dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya dengan teganya membohongi dan mempermainkan perasaannya. Tidak masalah jika pria yang ia cintai mencintai gadis lain atau bahkan berpacaran dengan gadis lain, tapi tahukah kalian? bagaimana perasaan kalian jika kalian tahu bahwa orang yang dicintai oleh pria yang sangat kamu cintai itu adalah sahabatmu sendiri? sahabat yang sudah menjadi orang kepercayaanmu untuk
bisa menolongmu mendapatkan cinta dari pria itu, tapi kini kenyataan yang harus kamu terima adalah ternyata di
belakangmu sahabatmu itu diam-diam tengah menjalin hubungan dengan pria yang kamu cintai. Sakit bukan? dan itulah yang kini tengah Ripani rasakan, bahkan rasa sakit itu kini
membuat dadanya terasa sangat sesak.
Dia menolehkan kepalanya saat dia mendengar getaran ponselnya yang ia letakkan di atas meja. Ia mengambilnya
perlahan dengan pandangan mata yang buram karena air mata yang belum mengering sepenuhnya. Dia mengusap air matanya dan melihat belasan sms masuk dan belasan panggilan tak terjawab dari sahabat-sahabatnya yang lain. Dia kembali meneteskan air matanya saat membuka satu persatu
pesan dari mereka yang menanyai bagaimana keadaanya saat ini. Dia menjatuhkan ponselnya begitu saja dan kembali memeluk kedua kakinya dan kembali menangis yang membuat tubuhnya terasa bergetar.
“Tuhan, kenapa rasanya sangat sakit dan sesak sepert ini”. Ucapnya lirih dengan air mata yang semakin deras membasahi wajahnya.
—
Dua melangkahkan kaknya memasuki gedung sekolahnya dengan mata yang dia yakin masih sedikit sembab karena
tangisanya semalam. Dia sudah berusaha mencuci wajahnya berulang kali tapi tetap saja, mata sembab dan lingkaran hitam di bawah matanya masih terlihat. Dia berjalan menuju
kelasnya dengan langkah lesu tapi seketika kakinya tiba-tiba saja berhenti saat dia melihat pria yang ia cintai itu tengah berjalan berlawanan arah denganya. Dia menundukkan kepalanya dan merutuki perasaanya yang tidak pernah terkendali jika ia melihat dia berada di dekanya. Dia mengepalkan tanganya berusaha untuk menahan air mata yang sedang berlomba-lomba untuk keluar dari pelupuk matanya.
“Tidak, aku mohon jangan saat ini. Aku mohon jangan menangis saat ini” Ucapnya pelan berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri dan tetap berjalan dengan kepala menunduk
karena dia sama sekali tidak sanggup untuk melihat wajah itu lagi.
"Ripani…”. Dia menahan nafasnya saat ia mendengar suara yang sangat dia hafal itu memanggil namanya. Dan kembali dia merutuki kebodohanya yang tidak bisa mengacuhkan panggilan itu.
“Pan…”. Panggil Timo lagi yang membuatnya memejamkan mata
sejenak sebelum akhirnya dia berbalik badan dan menatapnya yang kini tengah melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Hemmm”. Jawabnya dengan gumaman yang membuat Timo kini menatapnya dengan tatapan menyelidik.
“Kamu baik-baik saja?”. Tanya Timo yang membuatnya saat ini ingin sekali mengeluarkan air matanya. Dia tidak baik-baik saja bodoh, dan ini semua karena Timo. Kenapa Timo tidak
pernah peka terhadap perasaanya? apa sebegitu besarkah rasa ketidaksukaan Timo kepadanya sehingga Timo
tidak pernah peka dan tidak pernah perduli dengan perasaanya?.
“Eumm aku baik-baik saja”. Jawabnya datar yang membuatnya menganggukan kepalanya pelan.
“Eumm kalau begitu aku duluan Sya”. Ucap Timo dan setelah
itu Timo kembali melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Ripani
yang kini menatap punggungnya dengan pandangan sedikit buram karena matanya yang sudah berkaca kaca.Timo kenapa tega sekali membuatnya hancur seperti ini?. Ripani
sangat tahu jika Timo tidak mempunyai perasaan apapun padanya tapi bisakah Timo menghargai perasaanya sedikit saja? bukankah selama ini Timo sudah sangat jelas mengetahui perasaanya pada Timo tapi kenapa dengan teganya justru Timo berpacaran dengan Fatin dan lebih teganya lagi adalah Timo berpacaran dengan sahabatnya sendiri secara diam-diam. Dua menggigit bibir bawahnya berusaha untuk menahan air
mata dan rasa sakit yang kembali menjalar di dadanya itu, dan dengan cepat dia berlari menuju toilet untuk menumpahkan seluruh air mata yang sudah tak kuat untuk ia tahan lagi. Dia memasuki salah satu toilet dan terduduk lemas di atas closet
yang tertutup. Dia menutup mulutny dengan tangan, berusaha untuk menahan isakanya.
“Kamu bodoh Ripani, kamu bodoh sekali” Ucapnya sambil memukul pelan kepalanya. “Kamu bodoh bagaimana bisa kamu tidak tahu jika selama ini kamu sudah dibohongi dan
dipermainkan oleh mereka?”. Ucapnya dengan air mata yang semakin deras mengalir membasahi wajahnya dan seketika ingatanya saat dia mengetahui semua kebohongan mereka melalui ponsel Fatin kembali tengingang di dalam ingatanya. Ya, dia mengetahui semua kebohongan mereka darinya saat dia tidak sengaja membaca salah satu pesan dari Timo di ponsel Fatin, sahabatnya itu. Satu pesan berisikan tulisan romantis yang membuat semua orang yang melihatnya pasti akan berpikiran jika mereka mempunyai
hubungan, dan saat itulah dia mulai sadar jika dia sudah dibohongi oleh mereka dan sudah dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Sahabat yang dulu berkata ingin membantunya dekat dengan Timo, tapi di belakangnya justru ia mengambil kesempatan itu untuk dekat dengan pria yang ia cintai dan berpacaran dengannya.
—
Setelah dia merapikan kembali penampilanya , dia berjalan memasuki ruang kelasnya. Ruang kelas yang sebentar lagi akan dia tinggalkan karena ia akan lulus dari sekolah
menengah pertama, sekaligus meninggalkan sekolah yang
membuatnya merasakan cinta dan perasaan menyakitkan. Dia berjalan menuju mejanya dan dia tersenyum kecil saat melihat keempat sahabatnya yang lain menatapnya dengan tatapan
khawatir. Ya, dia rasa dia beruntung karena dia masih mempunyai empat sahabat lagi walaupun satu sahabatnya
sudah menyakitinya. Dia meletakkan tasnya di meja dan kini tatapanya teralih pada seorang gadis seusia denganya yang sedang menyandarkan kepalanya pada dinding kelas dengan mata terpejam. Gadis itu Fatin, entah kenapa melihatnya kembali membuatnya ingin menangis tapi itu semua kembali dia tahan saat dia merasakan genggaman tangan yang cukup erat dari Ambar, salah satu sahabatnya yang membuanya menyunggingkan sedikit senyumnya sebagai tanda jika dia
baik-baik saja. Dia kembali mengalihkan pandangannya pada Fatin yang masih memejamkan matanya. Ia akui jika Fatin
memang mempunyai wajah yang cantik, jadi apakah Timo lebih memilih Fatin karena ia lebih cantik daripada dirinya?. Dia menghela nafas beratnya, mengingat Timo kembali membuat dadanya sesak. Dia berniat untuk menghampiri Fatin, berniat untuk menyelesaikan permasalahan mereka itu secepatnya tapi langkahnya terhenti saat Ambar menahan lengannya yang
membuatnya menoleh ke arah Ambar.
“Kita sebaiknya menyelesaikan permasalahan ini di luar sekolah Pan”. Ucap Ambar pelan yang akhirnya membuatnya menganggukan kepala pelan. Dia kembali menatap Fatin sekilas lalu dia beranjak duduk di kursinya dan merebahkan kepalanya di meja. Harus ia akui karena permasalahan ini membuat hubunganya dengan Fatim sedikit merenggang. Entah dia atau Fatin yang menghindar tapi ia dapat merasakan
perubahan itu. Begitu juga dengan sahabatnya yang lain, setelah mengetahui permasalahan ini mereka juga menjadi sedikit berbeda dengan Fatin, bukan menjauhi tapi
mungkin sahabat-sahabatnya yang lain kecewa dengan Fatin karena adanya permasalahan ini.
—
Satu minggu telah berlalu dan hari ini dia melangkahkan kakinya memasuki gedung sekolahnya dengan perasaan yang sedikit lebih ringan daripada hari-hari sebelumnya. Satu minggu sudah berlalu tapi hingga saat ini dia belum
menyelesaikan permasalahan ini dengan Fatin karena kesibukan mereka yang sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional membuatnya lebih memfokuskan dirinya untuk belajar
terlebih dulu. Dia berniat memasuki kelasnya saat dia melihat Ambar dan Rista keluar dari kelas dengan pandangan yang terarah pada Siti dan Dewi yang berjalan menuju salah
satu ruangan kosong yang ada di sekolah itu.
“Mau kemana?”. Tanyanya yang membuat Ambar dan Rista menghentikan langkah mereka.
“Ada yang harus dibicarakan, ayo ikut”. Ucap Ambar lalu Ambar mengapit lenganya dan membawanya mengikutinya dan Rista.
Dia memandang mereka berdua dengan tatapan bingung. Rista dan Ambar membawanya ke sebuah ruang kelas yang sudah tidak terpakai di sekolah itu dan kini pandangan matanya teralih pada tiga orang gadis yang tengah berdiri di hadapanya saat ini. Siti dan Dewi mengangkat kedua bahunya dan memandangnya dengan pandangan seolah-olah mengatakan ‘aku juga tidak tahu’. “Semuanya sudah kumpul kan? jadi ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian”. Ucap Fatin yang membuatnya kini menatapnya. Apakah ia akan membicarakan permasalahan mereka disini?. “Aku tidak tahu apa yang sudah aku lakukan sampai-sampai kalian bersikap menjauhi aku seperti ini. Jadi kalau kalian ada masalah dengan aku bicara terus terang dan jangan bisanya hanya berbicara di belakang”. Ucap Fatin yang seketika langsung membuat Siti dan Dewi mendesis pelan.
“Sebelum kamu berbicara seperti itu, ada baiknya kamu tanya kepada diri kamu sendiri. Kamu pernah berbuat salah atau tidak dengan kami?”. Ucap Siti yang mendadak membuat
hawa di ruangan itu menjadi tegang. Ripani menghembuskan nafas beratnya, sepertinya permasalahan itu harus diselesaikan saat itu juga. “Aku? aku tidak merasa berbuat salah dengan kalian jadi…” “Tidak berbuat salah? berpacaran dengan pria yang disukai oleh sahabatmu sendiri itu bukan masalah?”. Ucap Ambar yang seketika langsung membuat Fatin terdiam dengan pandangan tak percayanya.
“Aku rasa kita memang harus membicarakannya sekarang Tin”. Ripani menghela nafas sejenak sebelum akhirnya melanjutkan ucapanya. “Kamu berpacaran dengan Timo kan?”. Tanyanya yang membuat Fatin kini menatapnya. “Jadi diam-diam kalian pacaran, bukankah kamu bilang kamu akan membantuku untuk bisa berpacaran dengan Timo?”.
Tanyanya lagi dengan matanya yang mulai terasa panas. Dia mohon jangan menangis saat ini, Dia tidak mau terlihat
lemah di hadapan Fatin. “Jadi ini masalahnya?”. Ucap Fatin yang seketika langsung membuat Ripani menatapnya dengan wajah bingung. Fatin melakukan kesalahan tapi dengan tenangnya ia mengatakan hanya ini masalahnya?. “Oke, aku tahu aku salah karena aku
pacaran dengan Timo diam-diam. Lalu apa aku juga salah sepenuhnya kalau ternyata Timo lebih memilihku dari pada
kamu Pan?”. Ucap Fatin yang seketika membuat Ripani membulatkan matanya. Fatin? astaga apa tak punya
malu terhadap Ripani? sudah terbukti salah tapi kenapa ia sama sekali tidak menyesalinya dan hanya berbicara seperti itu. “Aku tahu dan aku sangat paham Timo memang tidak salah
jika ia mencintai orang lain tapi satu hal yang membuat aku kecewa Tin, kenapa harus kamu? kenapa harus kamu yang
menjadi gadis yang Timo cintai? kita bersahabat sudah lama kan Tin? kenapa kamu tidak memikirkan perasaanku Tim saat kamu menerima cintanya?”. Ucap Ripani dengan suara parau. Runtuh sudah pertahanan yang dia bangun sejak tadi, pertahanan untuk tidak menangis akhirnya runtuh sudah
membuat keempat sahabatnya kini berusaha untuk menenangkanya. Fatin terdiam dengan tatapan mata yang masih saja menatap lurus dalam retina mata Ripani yang sudah mengabur karena air mata yang belum berhenti
mengalir. “Fatin, haruskah kita bertengkar hanya karena masalah
seperti ini?”. Ucap Rista yang membuat Fatin menundukkan kepalanya sejenak dan setelah itu ia mengangkat kepalanya lalu kembali menatap Ripani “Ripani maaf jika aku tidak memikirkan perasaanmu, maaf jika aku juga menyakitimu dan maaf tapi aku juga mencintai Timo”. Ucap Fatin yang berhasil membuat dada Ripani kembali
terasa sesak dan berdenyut sakit. Dia menolehkan kepalanya kearah Fatin yang akan keluar dari ruangan ini. “Fatin…”. Panggilnya yang membuat Fatin menghentikan langkah kakinya. “Jadi persahabatan… persahabatan kita hanya sampai disini Tin? jadi kamu lebih memilih dia dari pada persahabatan kita Tin?”. Ucapnya dengan suara yang
bergetar dan merasakan tenggorokannya sakit saat dia harus
mengucapkan kata-kata yang selama ini tak pernah terpikirkan dalam persahabatan mereka. Fatin hanya terdiam dan setelah itu ia kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu yang membuat Ripani dan
keempat sahabatnya menatap Fatin tak percaya. Ripani menundukkan kepalanya dengan isakan yang lebih kencang. Ia rasakan Ambar memeluknya dan ketiga sahabatnya yang lain
berusaha menenangkanya. Tidak… bukan seperti ini yang Ripani
mau, bukan seperti itu akhir dari penyelesaian masalah itu.
Haruskah dia melepaskan cintanya dan melepaskan sahabatnya juga? Jika memang tidak bisa mendapatkan cintanya, dia akan berusaha untuk
menerimanya tapi dia memohon kepada Tuhan, jika takdir persahabatanya adalah seperti itu mohon rubah takdir itu
dan kembalikan sahabatnya tu kesisinya lagi.
---END---