Pemain: Dylan O'Brien, Ki Hong Lee, Kaya Scodelario, Thomas Brodie-Sangster, Dexter Darden, Alexander Flores, Jacob Lofland dan Rosa Salazar.
Sutradara: Wes Ball
Penulis: T.S. Nowlin dan James Dasher
Durasi: 131 menit
Sinopsis:
Setelah berhasil melarikan diri dari labirin Gladers, Thomas (Dylan O'Brien) masih dihadapkan oleh sebuah masalah. Mereka terjebak di dalam labirin yang berisikan orang-orang WICKED. Di dalam sana, mereka menemukan sahabatnya yang telah hilang bernama Teresa (Kaya Scodelario).
Selama di dalam labirin, Thomas dan teman-temannya diperlakukan baik. Mereka diberi makan dan tempat tidur yang layak. Namun sebuah pertanyaan besar muncul di benak Thomas. Usai waktu makan, selalu ada anak muda yang dipanggil ke suatu tempat rahasia oleh pimpinan labirin. Namun mereka tak pernah kembali lagi. Karena penasaran, Thomas pun mencoba menyelidikinya bersama Aris (Jacob Lofland).
Faktanya, penguasa labirin memanfaatkan bagian dalam tubuh manusia untuk keperluan tertentu. Semua anak yang telah menjadi korban digantung secara mengenaskan dan diambil bagian dalam tubuhnya. Termasuk Teresa, sahabat mereka.
Merasa tak lagi aman, Thomas dan teman-temannya kemudian melarikan diri keluar dari labirin. Mereka harus menerjang dunia luar yang ternyata jauh lebih kejam dari yang dibayangkan. Bola baja yang tiba-tiba muncul dari kegelapan, badai gurun pasir yang merajam habis hingga ke tulang, hingga gerombolan Crank yang haus darah, semakin menciutkan hati mereka.
Di balik semua cobaan itu, Thomas harus kehilangan salah satu temannya, Winston (Alexander Flores). Winston bunuh diri karena tak mau virus Crank semakin merajalela di dalam tubuhnya. Namun perjalanan menuju rumah dan keluarga harus tetap dilanjutkan.
Siapa sangka, Teresa ternyata sudah tak sejalan dengan Thomas dan teman-temannya. Ia sudah berada di pihak WICKED. Teresa pun melakukan pengkhianatan besar, seperti apa bentuk pengkhiatan itu?
Review:
Film Maze Runner: The Scorch Trials hadir dengan 'paket' lengkap. Kisah perjuangan, persahabatan, percintaan dan keluarga terangkum indah dalam durasi 131 menit. Kisah asmara diam-diam antara Thomas dan Teresa menjadi lebih tersorot di sekuel keduanya ini.
Penonton akan disuguhkan oleh aksi yang menegangkan dari para pemain hampir di seluruh scene film. Apalagi didukung oleh efek visual yang tak kalah keren. CGI yang ada pun nyaris sempurna. Penonton akan merasakan seperti ada di gurun pasir yang menakutkan dan labirin yang menegangkan.
Namun durasi 131 menit terasa terlalu lama untuk ukuran film bergenre action dan thriller. Sangat mungkin penonton akan bosan dengan suguhan aksi yang terlalu banyak di film tanpa ujung penyelesaian yang biasa. Apalagi adegan aksi di film ini hanya mayoritas penggunaan senjata, bahan peledak, dan berlari-lari saja.
Terlepas dari semua itu, para pemain film Maze Runner: The Scorch Trials telah berakting dengan cukup baik. Mereka sangat menjiwai perannya masing-masing sejak film pertamanya. Film ini sangat cocok ditonton bagi Anda pecinta action dan sci-fi. Karena sepanjang film Anda akan disuguhkan oleh aksi yang menegangkan dan CGI sangat hidup. Maze Runner: The Scorch sudah dapat Anda saksikan di bioskop-bioskop tanah air sejak 11 September 2015.
Selasa, 15 September 2015
Review : Maze Runner: The Scorch Trials, Persahabatan Penuh Aksi
Dua Ajang Pencarian Bakat RCTI Masuki Tahap Final, Bagaimana Peforma Ratingnya?

DUA ajang pencarian bakat di RCTI memasuki season final pada pekan kedua bulan September 2015. Pada Jum'at (11/9) tayang grand final X Factor Indonesia Season 2 sedangkan keesokannya pada hari Sabtu (12/9) tayang episode final Master Chef Indonesia Season 4. Lantas bagaimana peforma kedua talent search yang sudah memasuki episode final ini?
Di season keduanya ini X Factor Indonesia tak lagi bergaung dari segi rating. Bahkan peserta yang tampil di babak live show mungkin juga kurang dikenal dibandingkan dengan Fatin CS yang sekarang bahkan karirnya sedang bersinar. Episode final yang memenangkan Jebe & Patty X Factor ini meraih TVR 2.2 dan share 16.2 persen. Perolehan ini termasuk sudah bagus dibandingkan dengan episode-episode X Factor sebelumnya yang bahkan pernah meraih share dibawah 10 persen.
Hal ini berbanding terbalik dengan acra pencadian bakat sebelumnya, yakni Rising Star Indonesia. Acara pencarian bakat ini memiliki judul baru dari acara serupa sebelum sebelumnya, seperti X Factor Indonesia & Indonesian Idol yang juga tayang di RCTI.
Namun,yang membuat Rising Star Indonesia berbeda dengan acara pencarian bakat lainya adalah cara voting nya. Jika lazim nya pencarian bakat memilih cara SMS untuk memvoting para kontestan, namun Rising Star Indonesia memilih menggunakan sebuah Aplikasi yang bisa di download di PlayStore & AppStore. Mungkin alasan ini lah yang membuat acara ini memiliki rating yang stabil, sampai ke grand final nya, Rising Star Indonesia mampu di posisi 5, yang akhirnya memenangkan Indah Nevertari sebagai pemenang nya dan Hanin Dhiya sebagai runner-up nya.
Walaupun dari segi tata panggung dan tribun penonton tidak se megah X Factor Indonesia. Namun acara ini banyak di tonton masyarakat karena cara voting nya dan juga para kontestan yang memiliki ciri khas masing masing. Jika Indah Nevertari memiliki keunikan suara nya dan sangat lihai nge-rap, Hanin Dhiya justru memiliki suara yang sangat luar biasa. Di usia nya yang masih terbilang sangat muda, yakni 13 tahun ( yang juga menjadi kontestan termuda ) namun suara yang di miliki nya layaknya Diva Dunia. Dengan teknik vokal yang amat sangat baik bahkan dia sering membawakan lagu lagu milik Diva dunia. Sampai dia di juluki "The Angelic Voice" & "Little Diva" oleh para Expert (juri)
Sedangkan episode Grand Final Master Chef Indonesia Season 4 yang memenangkan Luvita meraih TVR 2.0 dan share 17.7 persen. Untuk ukuran program sore perolehan ini terbilang tinggi. Namun dibandingkan dengan season-season sebelumnya, angka rating Master Chef juga mengalami penurunan di season keempatnya ini.
Penurunan rating ajang pencarian bakat dari season ke season lazim terjadi. Apalagi jika kualitas peserta tak sebagus season sebelumnya. Beberapa ajang pencarian bakat sekelas Indonesian Idol, Mamamia, Indonesia Mencari Bakat hingga AFI Indosiar pernah mengalami hal serupa.
