Kamis, 26 Maret 2015

Seraaammm...!!! Ini wajah Janin, Ibu hamil yang merokok

Masih dianggap biasa seorang wanita yang terus merokok walau saat hamil? sekarang pikir 2 kali deh, atau minimal sampaikan kepada kerabat dan teman tentang dampak menakutkan ini.
*
Pada sebuah studi, baru-baru ini dibuktikan bahwa kondisi janin pada wanita yang sedang hamil amatlah sangat mengerikan.Studi itu menggambarkan bahwa pada janin yang dikandung wanita perokok, akan ada beberapa gangguan vital. Semisal lambatnya pertumbuhan, kelainan syaraf, hingga sosok fisik yang tumbuh tak sempurna.
*
Seorang peneliti bernama Nadja Reissland dari Durham University , bahkan meneliti 20 wanita hamil perokok yang empat di antaranya merokok hampir satu bungkus sehari
(1 bungkus, 20 batang).
*
Dengan menggunakan scanner 4D, Reissland kemudian mengamati perkembangan janin yang dikandung para ibu tersebut. Akhirnya diketahui dan digambarkan bahwa sang janin akan cenderung menggerakkan mulut
serta menyentuh diri mereka sendiri pada bagian wajah dan mulut. Namun menjelang kelahiran refleks dan frekuensinya semakin berkurang. Reissland menjelaskan bahwa, menggerakkan mulut dan menyentuh diri sendiri menunjukkan kemampuan kontrol atas tubuh, yang seharusnya semakin baik dan sering menjelang kelahiran. "Studi lebih besar diperlukan untuk mengkonfirmasi hasil ini dan untuk menyelidiki efek tertentu, termasuk interaksi stres ibu dan merokok," katanya. Ia juga yakin sob, bahwa video tentang perbedaan perkembangan janin ini bisa menyadarkan para wanita hamil untuk tidak merokok. Namun ia juga mengatakan, bahwa studi ini masih tahap awal untuk membuktikan dampak merokok pada perkembangan janin.

-------------

Gimana? Masih mau merokok?
Sebenenya gak cuma buat ibu hamil doang, tapi semua umat manusia.
Anak-anak,remaja,dewasa,wanita,dan semuanya...
Lagian, apa untungnya merokok? Buang buang uang, bikin penyakit, dan juga ROKOK itu pintu menuju NARKOBA!

Senin, 23 Maret 2015

Ketika Sahabat Menjadi Pengkhianat

---
Kalian masing-masing pasti mempunyai
sahabat. Entah itu laki-laki atau perempuan, entah berapa banyaknya, satu atau dua, entah berapa jauh jarak umurnya dibandingkan kalian.
Sahabat, satu kata yang bermakna bagi kalian. Sahabat adalah teman sejati, biasanya kita berbagi curhat, rahasia,
cerita, dan lain-lain kepada mereka, dan meminta mereka  untuk menyimpan rahasia itu baik-baik agar tak diketahui orang lain.
*
TAPI, Sahabat juga bisa berkhianat. Ada pula sahabat yang awalnya bisa kita percaya, namun di belakang ternyata ia memberitahu semua tentang kita. Tidak percaya?
Baca cerita ini :
*
Hai, namaku Anisa,waktu itu  umurku masih 13 tahun, dan bersekolah di SMP Barisan Jaya. Saat ini, aku sekarang ada dalam masa liburan panjang akhir semester. Hari Senin besok, aku akan naik ke kelas 8. Jadi, liburan panjang ini begitu membosankan bagiku.
Aku mempunyai sahabat perempuan, yang bernama Dinda. Dia anak yang ramah. Awalnya, aku senang bersahabat dengannya. Karena dia dapat dipercaya, juga bukan mulut ember. Tapi lama kelamaan, aku membencinya. Apalagi karena kejadian malam minggu kemarin.
*
Hari itu, aku sedang saling mengirim pesan dengan Dinda dan Tissa. Aku bercerita banyak kepada Dinda, bagaimana aku menyukai seseorang yang disitu kusebutkan namanya. Dan bagaimana orang itu menanggapi perasaanku dengan cara menyatakan perasaannya padaku tanggal 22 Juni kemarin. Dinda sangat antusias, ia pun bertanya kepadaku akan hal itu.
Satu-satunya hal yang kuingat adalah ini:
“Nis, kau sedang memikirkan Billy, benar?”
Ya, nama orang yang kusukai itu adalah Billy. Sewaktu kelas 7, ia satu kelas dengan aku dan Dinda. Yah… entah apa yang mendorongku untuk menyukainya.
“Benar. Kau bisa tahu?” tanyaku.
Dinda hanya tertawa kecil. “Tentu saja.”
Aku diam.Kemudian membalas pesannya.
“Tapi kau janji jangan memberitahukannya kepada siapapun.”
“Oke,” ucap Dinda agak berat hati.
Setelah itu, kami menyudahi percakapan kami. Aku beralih mengirim pesan kepada Tissa.
“Hai, Tiss.” sapaku terlebih dahulu
.
“Hai, Nis. How are you?” tanya Tissa.
“Fine. Emm… how about masboy?” tanyaku kepada Tissa, menyebutkan julukan orang yang disukainya.
“Masbro? Emm… tadi malam, aku duduk di sebelahnya.” jawab Tissa senang.
“Wah, aku juga ikut senang.” ucapku sambil tersenyum.
“Ya, bagaimana hubunganmu dengan… hemm… Rizky?” tanya Tissa balik.
Aku tertegun.
“Biasa saja, kau tahu.” jawabku sambil tertawa.
“Haha… bisa saja kau,” balas Tissa.
“Ehh, sudah dulu ya, pulsaku menipis,” ucapku.
“Oke, goodnight Nis.” ucap Tissa.
“Goodnight Tiss.” balasku.
Aku pun memutuskan untuk tidur karena hari sudah terlalu malam.
*
Keesokan paginya, aku membuka internet. Aku bermaksud untuk membuka Facebook. Aku log-in, kemudian melihat-lihat
status di beranda. Dan! Ada sebuah status yang begitu menyindirku…
~ Billy
Kok aku jadi sedikit ENVY yah begitu dengar Anisa di t**b*k oleh Bi**y? Apa karena aku pernah menyukai Bi**y? Ah, entahlah O:).
“Apa-apaan ini!” aku membanting HPku seketika.
Aku lupa jika aku sedang berpuasa. Karena saking kesalnya, aku pun menaruh komen di status Dinda.
“Terlalu jelas, Din.” ucapku sedikit kesal.
Aku benar-benar tak percaya. Adinda, seseorang yang selama ini ku anggap paling baik, paling ku percaya ternyata berkhianat. Katanya, ia tidak akan membocorkannya kepada siapapun. Tapi ini… PENGHINAAN!
Aku mencoba mengirim pesan kepada Tissa. Isinya:
“Kau telah berbohong, Dinda.”
“Kenapa?” tanya Tissa.
“Kau lihat status Dinda, dia menghinaku!” seruku kesal.
“Sudah biasa,Nis. Kalau kau punya rahasia, jangan pernah memberitahukannya kepada Dinda. Dia itu MULUT EMBER,” jelas Tissa yang sepertinya juga kesal.
Aku menyesal, sungguh menyesal telah memberitahukan rahasia itu kepada Dinda. Mulai saat ini aku berjanji, tidak ingin mengenal Dinda lagi.
*
Sesampai di sekolah, aku langsung duduk di tempat duduku. Tissa menyapaku,
"Hai Nis, kamu baik baik saja kan?, jangan pikirin Dinda, biarlah dia mau berbuat apa,nanti dia juga cape sendiri" sapa Tissa menenangkan aku.
"Iya Tiss,kamu benar,buat apa aku memikirkan orang yang sudah aku anggap sebagai sahabat, namun dengan begitu teganya, dia mengumbar rahasiaku, dan lebih parahnya di facebook, Tiss" sahut ku sayup.
"Yaudah kita ke perpus aja yuk,dari pada suntuk di sini,lagipula jam masuk masih lama kan?" ajak Tissa kepadaku
"Yaudah,ayo aku juga lagi pengen baca buku nih" jawabku semangat
*
Namun, saat di tangga menuju lantai 1, aku dan Tissa berpapasan dengan Dinda yang dia baru akan naik untuk masuk ke kelas. Seketika di situ aku merasa sangat emosi,namun untungnya ada Tissa yang menengangkanku, kalau tidak, sudah ku acak acak mukanya.
"Aku jadi gak mood ke perpus Tiss,kita duduk aja yuk di taman sekolah" ucapku kesal
"Yaudah,yaudah tapi kamu harus janji dulu kamu gak bakalan emosi lagi kalo ketemu Dinda, selain itu tidak baik, kan juga malu Nis kalo sampe diliat sama orang" jawab Tissa dengan begitu bijaknya
"Okedeh Tiss" sahutku masih agak emosi
"Nah gitu dong, itu baru namanya Anisa yg aku kenal" ucap Tissa dengan nada ceria
*
Setelah di taman, aku bilang kepada Tiasa,
"Tiss" ucapku
"Apa Nis?" jawab Tissa enteng
"Maafin aku ya" ucapku cepat
"Lah, ko kamu minta maaf..? Emang kamu punya salah apa sama aku?" jawab Tissa bingung
"Ya iya,aku mungkin emang ga punya salah sama kamu. Tapi kini aku sadar sahabat aku sesungguhnya adalah kamu Tiss,kamu itu baik,selalu mendengarkan keluh kesalku,selalu menenangkan aku disaat aku sedih, kamu juga.... "
"Apaan sih kamu Nis,kita ini sahabatan udah lama banget,bahkan sejak SD. Kamu itu bukan hanya sahabat aku, tapi aku udah menganggap kamu sebagai saudaraku Niss" sambung Tissa yang membuat aku terharu
"Yaudah,mulai hari ini kamu duduk satu bangku sama aku ya Tiss,kan Nadia baru aja pindah sekolah, daripada aku duduk sendirian, lagipula kamu duduk sendirian pula, hahaha" balasku sedikit tertawa
"Sipp Niss,oh iya nanti pas pulang sekolah, anterin aku ke Gramedia ya, aku mau beli buku nih" kata Tisaa
"Buku? Buku apa ? " tanyaku heran
"Ah.. Sudahlah, lihat saja nanti Nis"ucapnya meledek
"Oohh sudahlah..." jawabku datar
*
Sejak saat itu, aku mulai sadar bahwa sahabat sejati ku adalah Tissa bukan Dinda.
Sejak saat itu aku tidak pernah berbicara bersama Dinda lagi sampai sekarang aku duduk di kelas 1 SMA.
----END---

Anisa Rahma

FTV Bali

Minggu, 22 Maret 2015

Catatan Akhir SMP

“Ada cerita tentang aku dan dia, dan kita bersama saat dulu kala”
“Ada cerita tentang masa yang indah, saat kita berduka, saat kita tertawa”(lagu Semua Tetang Kita, Peterpan)

-

Ketika ditanya tentang kesan seseorang mengenai masa- masa SMP nya, mungkin kebanyakan jawaban yang timbul adalah : “Menarik”, “tak terlupakan”, “wah,,,masa-masa indah…” dan banyaaak versi ungkapan-ungkapan yang muncul sesuai dengan lata belakang pengalaman dan kisah yang berbeda. Namun semuanya sepakat, bahwa SMP adalah masa-masa
yang tak terlupakan. Dan itu memang benar adanya. Dahulu, ketika langkah-langkah polos kita mulai menapaki rajutan hari-hari di SMP, tak pernahterpikirkan bahwa tiap detik yang kita lalui saat itu, kelak akan menjadi hal-hal yang akan sangat kita rindukan pada 5, 10, 15, atau 20 tahun mendatang. Setiap jengkal kejadian, baik itu kisah sedih, menyenangkan,
pahit, manis, memalukan adalah hal-hal yang menarik untuk diceritakan KELAK ketika kita sudah tidak bisa lagi melalui semua penngalaman itu.

-

Siapa sangka, pengalaman ketika  dimarahi senior pada saat MOS (Masa Orientasi Siswa) yang sangat membuat kita kesal, sekarang kalau difikir-fikir malah membuat kita tertawa sendiri.
Siapa sangka, ketika pikiran polos kita sudah terkontaminasi
dengan keinginan bolos, cabut, nyontek, suka membantah perkataan guru, yang ujung-ujungnya adalah Skors, dihukum,
kena marah…(ahh, menyakitkan memang), tetapi semua itu sekarang bak sebuah kisah manis yang sangat seru untuk diceritakan,,
Atau pengalaman ketika menjadi seorang bintang kelas, aktifis sekolah, ikut berbagai kegiatan dan perlombaan,,,telah meninggalkan seraut kebanggan di memory-memory otak
kita.
Sebentuk persahabatan sejatipun telah kita bina di indahnya masa-masa SMP. Teman yang bukan hanya sekedar pelepas tawa, namun juga hadir di kala kita berduka, yang bersedia menyediakan pundaknya ketika kita butuh sandaran. Membuat PR di kelas,ketika ujian, jajan ke kantin di saat jam pelajaran kosong, tidak membawa topi pada saat upacara dan lain sebagainya.Kemana lagi akan kita cari sahabat seperti itu selepas masa-masa SMP??? Dan, sekelompok orang tua kedua yang kita panggil dengan sebutan “Bapak” dan “Ibu” GURU itu… Kasih sayang dan jasanya kepada kita sungguh luar biasa. Hmmmm…walaupun terkadang kita mengikuti pelajaran beliau dengan adegan tambahan “terkantuk-kantuk”, diiringi rasa bosan, jenuh,
bahkan lebih ekstrimnya lagi kita seing bermain HP,mendengarkan musik pakai headset,dan berpura2 ke toilet yang akhirnya ke kantin untuk membeli jajan.

-

Jika seorang pemikir ulung mengatakan bahwa ”future is’nt to be found, but to created” mungkin itu benar adanya. Dan tahukah kawan, secara tidak langsung, masa-masa SMP merupakan bagian dan langkah untuk kita mencapai kondisi seperti saat ini. Masa-masa SMP turut berkontribusi untuk
menciptakan ”kita” yang seperti ini. Maka patutlah rasanya jika kita mengucapan terimakasih kepada guru, sahabat, semua civitas dari SMP, yang turut andil mewarnai kehidupan kita dengan hitam, putih, merah, birunya dunia. Klise memang, namun begitulah adanya. Sepahit, seburuk, semanis apapun kenangan itu, kenangan tinggalllah kenangan… dan setiap kenangan itu tak kan pernah terulang
persis sama seperti dahulu…Namun ada satu teori konsep kenangan yang sepertinya harus kita sepakati, bahwa;
kenangan bukanlah untuk dilupakan…Biarkan menjadi
sebentuk kisah, SEBUAH KISAH KLASIK UNTUK MASA DEPAN… Sebuah kisah klasik yang akan kita ceritakan kepada anak, cucu kita kelak.

-

***Andai ada satu hariiiiiiiiiiiii saja untukku dapat mengulang kembali indahnya masa SMP, duduk tenangdi dalam ruangan kelas, berseragam putih biru, mendengarkan ceramah guru di depan, membuat berbagai tugas, PR, bercanda ria dengan teman, ke kantin bareng, gila-gilaan bareng… Hmmmm….andai itu benar-benar terjadi. Tapi kutahu itu semua hanya mimpi. Tidak mungkin bisa benar-benar
mengulang kembali… Tuhan, jika memang begitu, jangan hapus memory memory itu. Biarlah tersimpan abadi di otakku, agar aku bisa mereplay ulang
kembali semua peristiwa indah itu… Kisah yang terukir indah di bawah naungan acasiaku… ”Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kli, kita berbincang, tentang memory di masa itu,,,Peluk tubuhku, usapkan juga air mataku, kita terharu seakan tiada bertemu lagi. Bersenang-senanglah, karena hari ini yang kan kita rindukan, di hari nanti, sebuah KISAH KLASIK tuk masa depan. Bersenang-senanglah, karena waktu ini yang kan kita
banggakan, di hari tua…..Sampai jumpa kawanku..Semoga
kita selalu,,Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan….Mungkin diriku, masih ingin bersama kalian, mungkin jiwaku, masih haus sanjungan kalian.

-

Ini adalah pengalaman sewaktu SMP di masa masa PERPISAHAN.
JUJUR,saya menulis ini dengan perasaan ingin merasakan kembali masa masa itu, dan pastinya sedikit meneteskan air mata. (Mungkin sedikit lebay)

-

AKU RINDU SUASANA SMPN 62 JAKARTA

Selasa, 17 Maret 2015

Lirik Lagu Harusnya Ada Kamu - MILOVA

Penyanyi : Milova
Judul lagu : Harusnya ada kamu
Pencipta : Ardo Sebastian
Album : Single baru Milova
Profil MILOVA
MILOVA adalah grup vokal yang terdiri dari 3 bersaudara kaka beradik. Adinda Purnama Adi, Anisa Rahma Adi, dan Raisa Fatma Adi.
Anda mungkin sudah familiar dengan Anisa Rahma, salah satu persoinil MILOVA ini merupakan mantan member girlband CherryBelle hingga ia populer dengan nama Anisa ChiBi. Kali ini Anisa
mengajak saudara lainnya yang tak kalah cantik membentuk trio MILOVA yang lebih dewasa. Lagu Harusnya Ada Kamu adalah lagu perdana MILOVA yang diciptakan Ardo sebastian.berikut ini adalah Lirik Lagu MILOVA - Harusnya Ada Kamu :
MILOVA - Harusnya Ada Kamu Lirik
Hampa terasa bila jauh darimu
Andai kau ada mewarnai hariku
Telah kucoba mengalihkan waktuku
Namun ternyata hati tetap merindu
Sesungguhnya aku tak mau sendiri
Semestinya ada dirimu disini
Disetiap langkahku, disepanjang hidupku
Harusnya ada kamu...
Telah kucoba mengalihkan waktuku
Namun ternyata hati tetap merindu
Sesungguhnya (sesungguhnya) aku tak mau sendiri
Semestinya (semestinya) ada dirimu disini
Disetiap langkahku, disepanjang hidupku
Harusnya ada kamu..
Harusnya ada kamu ( harusnya ada kamu )...
Harusnya... harusnya ada kamu...
Hoooo Hou o Hou ohoooo yei heeeee eeheee
Sesungguhnya aku tak mau sendiri (aku tak mau sendiri)
Semestinya ada dirimu disini (ada dirimu disini)
Sesunggunya (sesungguhnya) aku tak mau sendiri (aku tak mau sendiri)
Semestinya (semsestinya) ada dirimu disini (ada dirimu disini)
Disetiap langkahku, disepanjang hidupku, disetiap nafasku ohho huu...
Harusnya ada kamu...
Harusnya ada kamu...

Jumat, 13 Maret 2015

Sahabat Atau Cinta

Ripani semakin mengeratkan pelukanya pada kedua kakinya saat petir yang menggelegar itu kembali terdengar dalam indra pendengaraya. Air matanya kembali mengalir saat hujan di luar sana kembali turun dengan derasnya seolah ikut merasakan apa yang tengah ia rasakan saat ini. Sesak, sungguh rasanya sangat sesak seakan ia sudah tidak bisa bernafas dengan benar saat ini karena air mata yang sudah
tumpah membasahi wajahnya sejak dia pulang sekolah dan mengurung dirinya di kamar. Dia semakin mengeratkan
pelukanya di kedua kakinya saat dia merasakan tubuhnya yang semakin bergetar seiringan dengan air mata yang semakin mengalir dari matanya. Mereka? dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya dengan teganya membohongi dan mempermainkan perasaannya. Tidak masalah jika pria yang ia cintai mencintai gadis lain atau bahkan berpacaran dengan gadis lain, tapi tahukah kalian? bagaimana perasaan kalian jika kalian tahu bahwa orang yang dicintai oleh pria yang sangat kamu cintai itu adalah sahabatmu sendiri? sahabat yang sudah menjadi orang kepercayaanmu untuk
bisa menolongmu mendapatkan cinta dari pria itu, tapi kini kenyataan yang harus kamu terima adalah ternyata di
belakangmu sahabatmu itu diam-diam tengah menjalin hubungan dengan pria yang kamu cintai. Sakit bukan? dan itulah yang kini tengah Ripani  rasakan, bahkan rasa sakit itu kini
membuat dadanya terasa sangat sesak.
Dia menolehkan kepalanya saat dia  mendengar getaran ponselnya yang ia letakkan di atas meja. Ia mengambilnya
perlahan dengan pandangan mata yang buram karena air mata yang belum mengering sepenuhnya. Dia mengusap air matanya dan melihat belasan sms masuk dan belasan panggilan tak terjawab dari sahabat-sahabatnya yang lain. Dia kembali meneteskan air matanya saat membuka satu persatu
pesan dari mereka yang menanyai bagaimana keadaanya saat ini. Dia menjatuhkan ponselnya begitu saja dan kembali memeluk kedua kakinya dan kembali menangis yang membuat tubuhnya terasa bergetar.
“Tuhan, kenapa rasanya sangat sakit dan sesak sepert ini”. Ucapnya lirih dengan air mata yang semakin deras membasahi wajahnya.

—

Dua melangkahkan kaknya memasuki gedung sekolahnya dengan mata yang dia  yakin masih sedikit sembab karena
tangisanya  semalam. Dia sudah berusaha mencuci wajahnya berulang kali tapi tetap saja, mata sembab dan lingkaran hitam di bawah matanya masih terlihat. Dia  berjalan menuju
kelasnya dengan langkah lesu tapi seketika kakinya tiba-tiba saja berhenti saat dia melihat pria yang ia  cintai itu tengah berjalan berlawanan arah denganya. Dia menundukkan kepalanya dan merutuki perasaanya yang tidak pernah terkendali jika ia  melihat dia  berada di dekanya. Dia mengepalkan tanganya  berusaha untuk menahan air mata yang sedang berlomba-lomba untuk keluar dari pelupuk matanya.
“Tidak, aku mohon jangan saat ini. Aku mohon jangan menangis saat ini” Ucapnya pelan berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri dan tetap berjalan dengan kepala menunduk
karena dia sama sekali tidak sanggup untuk melihat wajah itu lagi.
"Ripani…”. Dia menahan nafasnya saat ia  mendengar suara yang sangat dia  hafal itu memanggil namanya. Dan kembali dia merutuki kebodohanya yang tidak  bisa mengacuhkan panggilan itu.
“Pan…”. Panggil Timo lagi yang membuatnya memejamkan mata
sejenak sebelum akhirnya dia berbalik badan dan menatapnya yang kini tengah melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Hemmm”. Jawabnya dengan gumaman yang membuat Timo kini menatapnya dengan tatapan menyelidik.
“Kamu baik-baik saja?”. Tanya Timo yang membuatnya saat ini ingin sekali mengeluarkan air matanya. Dia tidak baik-baik saja bodoh, dan ini semua karena Timo. Kenapa Timo tidak
pernah peka terhadap perasaanya? apa sebegitu besarkah rasa ketidaksukaan Timo  kepadanya sehingga Timo
tidak pernah peka dan tidak pernah perduli dengan perasaanya?.
“Eumm aku baik-baik saja”. Jawabnya  datar yang membuatnya menganggukan kepalanya pelan.
“Eumm kalau begitu aku duluan Sya”. Ucap Timo dan setelah
itu Timo kembali melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Ripani
yang kini menatap punggungnya dengan pandangan sedikit buram karena matanya yang sudah berkaca kaca.Timo kenapa tega sekali membuatnya hancur seperti ini?. Ripani
sangat tahu jika Timo tidak mempunyai perasaan apapun padanya tapi bisakah Timo menghargai perasaanya sedikit saja? bukankah selama ini Timo sudah sangat jelas mengetahui perasaanya pada Timo tapi kenapa dengan teganya justru Timo berpacaran dengan Fatin dan lebih teganya lagi adalah Timo berpacaran dengan sahabatnya sendiri secara diam-diam. Dua menggigit bibir bawahnya berusaha untuk menahan air
mata dan rasa sakit yang kembali menjalar di dadanya itu, dan dengan cepat dia berlari menuju toilet untuk menumpahkan seluruh air mata yang sudah tak kuat untuk ia tahan lagi. Dia memasuki salah satu toilet dan terduduk lemas di atas closet
yang tertutup. Dia menutup mulutny dengan tangan, berusaha untuk menahan isakanya.
“Kamu bodoh Ripani, kamu bodoh sekali” Ucapnya sambil memukul pelan kepalanya. “Kamu bodoh bagaimana bisa kamu tidak tahu jika selama ini kamu sudah dibohongi dan
dipermainkan oleh mereka?”. Ucapnya dengan air mata yang semakin deras mengalir membasahi wajahnya dan seketika ingatanya saat dia mengetahui semua kebohongan mereka melalui ponsel Fatin kembali tengingang di dalam ingatanya. Ya, dia mengetahui semua kebohongan mereka darinya  saat dia  tidak sengaja membaca salah satu pesan dari Timo di ponsel Fatin, sahabatnya itu. Satu pesan berisikan tulisan romantis yang membuat semua orang yang melihatnya pasti akan berpikiran jika mereka mempunyai
hubungan, dan saat itulah dia mulai sadar jika dia sudah dibohongi oleh mereka dan sudah dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Sahabat yang dulu berkata ingin membantunya dekat dengan Timo, tapi di belakangnya justru ia mengambil kesempatan itu untuk dekat dengan pria yang ia cintai dan berpacaran dengannya.

—

Setelah dia merapikan kembali penampilanya , dia berjalan memasuki ruang kelasnya. Ruang kelas yang sebentar lagi akan dia tinggalkan karena ia  akan lulus dari sekolah
menengah pertama, sekaligus meninggalkan sekolah yang
membuatnya merasakan cinta dan perasaan menyakitkan. Dia berjalan menuju mejanya dan dia tersenyum kecil saat melihat keempat sahabatnya yang lain menatapnya dengan tatapan
khawatir. Ya, dia rasa dia beruntung karena dia masih mempunyai empat sahabat lagi walaupun satu sahabatnya
sudah menyakitinya. Dia meletakkan tasnya di meja dan kini tatapanya teralih pada seorang gadis seusia denganya yang sedang menyandarkan kepalanya pada dinding kelas dengan mata terpejam. Gadis itu Fatin, entah kenapa melihatnya kembali membuatnya ingin menangis tapi itu semua kembali dia tahan saat dia merasakan genggaman tangan yang cukup erat dari Ambar, salah satu sahabatnya yang membuanya menyunggingkan sedikit senyumnya sebagai tanda jika dia
baik-baik saja. Dia kembali mengalihkan pandangannya pada Fatin yang masih memejamkan matanya. Ia akui jika Fatin
memang mempunyai wajah yang cantik, jadi apakah Timo lebih memilih Fatin karena ia lebih cantik daripada dirinya?. Dia menghela nafas beratnya, mengingat Timo  kembali membuat dadanya sesak. Dia berniat untuk menghampiri Fatin, berniat untuk menyelesaikan permasalahan mereka itu secepatnya tapi langkahnya terhenti saat Ambar menahan lengannya yang
membuatnya menoleh ke arah Ambar.
“Kita sebaiknya menyelesaikan permasalahan ini di luar sekolah Pan”. Ucap Ambar pelan yang akhirnya membuatnya menganggukan kepala pelan. Dia kembali menatap Fatin sekilas lalu dia beranjak duduk di kursinya dan merebahkan kepalanya di meja. Harus ia akui karena permasalahan ini membuat hubunganya dengan Fatim sedikit merenggang. Entah dia atau Fatin yang menghindar tapi ia dapat merasakan
perubahan itu. Begitu juga dengan sahabatnya yang lain, setelah mengetahui permasalahan ini mereka juga menjadi sedikit berbeda dengan Fatin, bukan menjauhi tapi
mungkin sahabat-sahabatnya yang lain kecewa dengan Fatin karena adanya permasalahan ini.

—

Satu minggu telah berlalu dan hari ini dia  melangkahkan kakinya  memasuki gedung sekolahnya dengan perasaan yang sedikit lebih ringan daripada hari-hari sebelumnya. Satu minggu sudah berlalu tapi hingga saat ini dia belum
menyelesaikan permasalahan ini dengan Fatin karena kesibukan mereka yang sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional membuatnya lebih memfokuskan dirinya untuk belajar
terlebih dulu. Dia berniat memasuki kelasnya saat dia melihat Ambar dan Rista keluar dari kelas dengan pandangan yang terarah pada Siti dan Dewi yang berjalan menuju salah
satu ruangan kosong yang ada di sekolah itu.
“Mau kemana?”. Tanyanya yang membuat Ambar dan Rista menghentikan langkah mereka.
“Ada yang harus dibicarakan, ayo ikut”. Ucap Ambar lalu Ambar mengapit lenganya dan membawanya mengikutinya dan Rista.
Dia memandang mereka berdua dengan tatapan bingung. Rista dan Ambar membawanya ke sebuah ruang kelas yang sudah tidak terpakai di sekolah itu dan kini pandangan matanya teralih pada tiga orang gadis yang tengah berdiri di hadapanya saat ini. Siti dan Dewi mengangkat kedua bahunya dan memandangnya dengan pandangan seolah-olah mengatakan ‘aku juga tidak tahu’. “Semuanya sudah kumpul kan? jadi ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian”. Ucap Fatin yang membuatnya kini menatapnya. Apakah ia akan membicarakan permasalahan mereka disini?. “Aku tidak tahu apa yang sudah aku lakukan sampai-sampai kalian bersikap menjauhi aku seperti ini. Jadi kalau kalian ada masalah dengan aku bicara terus terang dan jangan bisanya hanya berbicara di belakang”. Ucap Fatin yang seketika langsung membuat Siti dan Dewi mendesis pelan.
“Sebelum kamu berbicara seperti itu, ada baiknya kamu tanya kepada diri kamu sendiri. Kamu pernah berbuat salah atau tidak dengan kami?”. Ucap Siti yang mendadak membuat
hawa di ruangan itu menjadi tegang. Ripani menghembuskan nafas beratnya, sepertinya permasalahan itu harus diselesaikan saat itu juga. “Aku? aku tidak merasa berbuat salah dengan kalian jadi…” “Tidak berbuat salah? berpacaran dengan pria yang disukai oleh sahabatmu sendiri itu bukan masalah?”. Ucap Ambar yang seketika langsung membuat Fatin terdiam dengan pandangan tak percayanya.
“Aku rasa kita memang harus membicarakannya sekarang Tin”. Ripani menghela nafas sejenak sebelum akhirnya melanjutkan ucapanya. “Kamu berpacaran dengan Timo kan?”. Tanyanya yang membuat Fatin kini menatapnya. “Jadi diam-diam kalian pacaran, bukankah kamu bilang kamu akan membantuku untuk bisa berpacaran dengan Timo?”.
Tanyanya lagi dengan matanya yang mulai terasa panas. Dia mohon jangan menangis saat ini, Dia tidak mau terlihat
lemah di hadapan Fatin. “Jadi ini masalahnya?”. Ucap Fatin yang seketika langsung membuat Ripani menatapnya dengan wajah bingung. Fatin melakukan kesalahan tapi dengan tenangnya ia mengatakan hanya ini masalahnya?. “Oke, aku tahu aku salah karena aku
pacaran dengan Timo diam-diam. Lalu  apa aku juga salah sepenuhnya kalau ternyata Timo lebih memilihku dari pada
kamu Pan?”. Ucap Fatin yang seketika membuat Ripani membulatkan matanya. Fatin? astaga apa tak punya
malu terhadap Ripani? sudah terbukti salah tapi kenapa ia sama sekali tidak menyesalinya dan hanya berbicara seperti itu. “Aku tahu dan aku sangat paham Timo memang tidak salah
jika ia mencintai orang lain tapi satu hal yang membuat aku kecewa Tin, kenapa harus kamu? kenapa harus kamu yang
menjadi gadis yang Timo cintai? kita bersahabat sudah lama kan Tin? kenapa kamu tidak memikirkan perasaanku Tim saat kamu menerima cintanya?”. Ucap Ripani dengan suara parau. Runtuh sudah pertahanan yang dia bangun sejak tadi, pertahanan untuk tidak menangis akhirnya runtuh sudah
membuat keempat sahabatnya kini berusaha untuk menenangkanya. Fatin terdiam dengan tatapan mata yang masih saja menatap lurus dalam retina mata Ripani  yang sudah mengabur karena air mata yang belum berhenti
mengalir. “Fatin, haruskah kita bertengkar hanya karena masalah
seperti ini?”. Ucap Rista yang membuat Fatin menundukkan kepalanya sejenak dan setelah itu ia mengangkat kepalanya lalu kembali menatap Ripani “Ripani maaf jika aku tidak memikirkan perasaanmu, maaf jika aku juga menyakitimu dan maaf tapi aku juga mencintai Timo”. Ucap Fatin yang berhasil membuat dada Ripani kembali
terasa sesak dan berdenyut sakit. Dia menolehkan kepalanya  kearah Fatin yang akan keluar dari ruangan ini. “Fatin…”. Panggilnya yang membuat Fatin menghentikan langkah kakinya. “Jadi persahabatan… persahabatan kita hanya sampai disini Tin? jadi kamu lebih memilih dia dari pada persahabatan kita Tin?”. Ucapnya dengan suara yang
bergetar dan merasakan tenggorokannya sakit saat dia harus
mengucapkan kata-kata yang selama ini tak pernah terpikirkan dalam persahabatan mereka. Fatin hanya terdiam dan setelah itu ia kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu yang membuat Ripani dan
keempat sahabatnya menatap Fatin tak percaya. Ripani menundukkan kepalanya dengan isakan yang lebih kencang. Ia rasakan Ambar memeluknya dan ketiga sahabatnya yang lain
berusaha menenangkanya. Tidak… bukan seperti ini yang Ripani
mau, bukan seperti itu akhir dari penyelesaian masalah itu.
Haruskah dia melepaskan cintanya dan melepaskan sahabatnya juga? Jika memang  tidak bisa mendapatkan cintanya, dia akan berusaha untuk
menerimanya tapi dia memohon kepada Tuhan, jika takdir persahabatanya adalah seperti itu  mohon rubah takdir itu
dan kembalikan sahabatnya tu kesisinya lagi.

---END---