---
Kalian masing-masing pasti mempunyai
sahabat. Entah itu laki-laki atau perempuan, entah berapa banyaknya, satu atau dua, entah berapa jauh jarak umurnya dibandingkan kalian.
Sahabat, satu kata yang bermakna bagi kalian. Sahabat adalah teman sejati, biasanya kita berbagi curhat, rahasia,
cerita, dan lain-lain kepada mereka, dan meminta mereka untuk menyimpan rahasia itu baik-baik agar tak diketahui orang lain.
sahabat. Entah itu laki-laki atau perempuan, entah berapa banyaknya, satu atau dua, entah berapa jauh jarak umurnya dibandingkan kalian.
Sahabat, satu kata yang bermakna bagi kalian. Sahabat adalah teman sejati, biasanya kita berbagi curhat, rahasia,
cerita, dan lain-lain kepada mereka, dan meminta mereka untuk menyimpan rahasia itu baik-baik agar tak diketahui orang lain.
*
TAPI, Sahabat juga bisa berkhianat. Ada pula sahabat yang awalnya bisa kita percaya, namun di belakang ternyata ia memberitahu semua tentang kita. Tidak percaya?
Baca cerita ini :
Baca cerita ini :
*
Hai, namaku Anisa,waktu itu umurku masih 13 tahun, dan bersekolah di SMP Barisan Jaya. Saat ini, aku sekarang ada dalam masa liburan panjang akhir semester. Hari Senin besok, aku akan naik ke kelas 8. Jadi, liburan panjang ini begitu membosankan bagiku.
Aku mempunyai sahabat perempuan, yang bernama Dinda. Dia anak yang ramah. Awalnya, aku senang bersahabat dengannya. Karena dia dapat dipercaya, juga bukan mulut ember. Tapi lama kelamaan, aku membencinya. Apalagi karena kejadian malam minggu kemarin.
Aku mempunyai sahabat perempuan, yang bernama Dinda. Dia anak yang ramah. Awalnya, aku senang bersahabat dengannya. Karena dia dapat dipercaya, juga bukan mulut ember. Tapi lama kelamaan, aku membencinya. Apalagi karena kejadian malam minggu kemarin.
*
Hari itu, aku sedang saling mengirim pesan dengan Dinda dan Tissa. Aku bercerita banyak kepada Dinda, bagaimana aku menyukai seseorang yang disitu kusebutkan namanya. Dan bagaimana orang itu menanggapi perasaanku dengan cara menyatakan perasaannya padaku tanggal 22 Juni kemarin. Dinda sangat antusias, ia pun bertanya kepadaku akan hal itu.
Satu-satunya hal yang kuingat adalah ini:
Satu-satunya hal yang kuingat adalah ini:
“Nis, kau sedang memikirkan Billy, benar?”
Ya, nama orang yang kusukai itu adalah Billy. Sewaktu kelas 7, ia satu kelas dengan aku dan Dinda. Yah… entah apa yang mendorongku untuk menyukainya.
“Benar. Kau bisa tahu?” tanyaku.
Dinda hanya tertawa kecil. “Tentu saja.”
Aku diam.Kemudian membalas pesannya.
“Tapi kau janji jangan memberitahukannya kepada siapapun.”
“Oke,” ucap Dinda agak berat hati.
Setelah itu, kami menyudahi percakapan kami. Aku beralih mengirim pesan kepada Tissa.
“Hai, Tiss.” sapaku terlebih dahulu
.
“Hai, Nis. How are you?” tanya Tissa.
“Hai, Tiss.” sapaku terlebih dahulu
.
“Hai, Nis. How are you?” tanya Tissa.
“Fine. Emm… how about masboy?” tanyaku kepada Tissa, menyebutkan julukan orang yang disukainya.
“Masbro? Emm… tadi malam, aku duduk di sebelahnya.” jawab Tissa senang.
“Wah, aku juga ikut senang.” ucapku sambil tersenyum.
“Ya, bagaimana hubunganmu dengan… hemm… Rizky?” tanya Tissa balik.
Aku tertegun.
“Biasa saja, kau tahu.” jawabku sambil tertawa.
“Haha… bisa saja kau,” balas Tissa.
“Ehh, sudah dulu ya, pulsaku menipis,” ucapku.
“Oke, goodnight Nis.” ucap Tissa.
“Goodnight Tiss.” balasku.
Aku pun memutuskan untuk tidur karena hari sudah terlalu malam.
*
Keesokan paginya, aku membuka internet. Aku bermaksud untuk membuka Facebook. Aku log-in, kemudian melihat-lihat
status di beranda. Dan! Ada sebuah status yang begitu menyindirku…
status di beranda. Dan! Ada sebuah status yang begitu menyindirku…
~ Billy
Kok aku jadi sedikit ENVY yah begitu dengar Anisa di t**b*k oleh Bi**y? Apa karena aku pernah menyukai Bi**y? Ah, entahlah O:).
Kok aku jadi sedikit ENVY yah begitu dengar Anisa di t**b*k oleh Bi**y? Apa karena aku pernah menyukai Bi**y? Ah, entahlah O:).
“Apa-apaan ini!” aku membanting HPku seketika.
Aku lupa jika aku sedang berpuasa. Karena saking kesalnya, aku pun menaruh komen di status Dinda.
“Terlalu jelas, Din.” ucapku sedikit kesal.
Aku benar-benar tak percaya. Adinda, seseorang yang selama ini ku anggap paling baik, paling ku percaya ternyata berkhianat. Katanya, ia tidak akan membocorkannya kepada siapapun. Tapi ini… PENGHINAAN!
Aku mencoba mengirim pesan kepada Tissa. Isinya:
Aku mencoba mengirim pesan kepada Tissa. Isinya:
“Kau telah berbohong, Dinda.”
“Kenapa?” tanya Tissa.
“Kau lihat status Dinda, dia menghinaku!” seruku kesal.
“Sudah biasa,Nis. Kalau kau punya rahasia, jangan pernah memberitahukannya kepada Dinda. Dia itu MULUT EMBER,” jelas Tissa yang sepertinya juga kesal.
Aku menyesal, sungguh menyesal telah memberitahukan rahasia itu kepada Dinda. Mulai saat ini aku berjanji, tidak ingin mengenal Dinda lagi.
*
Sesampai di sekolah, aku langsung duduk di tempat duduku. Tissa menyapaku,
"Hai Nis, kamu baik baik saja kan?, jangan pikirin Dinda, biarlah dia mau berbuat apa,nanti dia juga cape sendiri" sapa Tissa menenangkan aku.
"Iya Tiss,kamu benar,buat apa aku memikirkan orang yang sudah aku anggap sebagai sahabat, namun dengan begitu teganya, dia mengumbar rahasiaku, dan lebih parahnya di facebook, Tiss" sahut ku sayup.
"Yaudah kita ke perpus aja yuk,dari pada suntuk di sini,lagipula jam masuk masih lama kan?" ajak Tissa kepadaku
"Yaudah,ayo aku juga lagi pengen baca buku nih" jawabku semangat
*
Namun, saat di tangga menuju lantai 1, aku dan Tissa berpapasan dengan Dinda yang dia baru akan naik untuk masuk ke kelas. Seketika di situ aku merasa sangat emosi,namun untungnya ada Tissa yang menengangkanku, kalau tidak, sudah ku acak acak mukanya.
"Aku jadi gak mood ke perpus Tiss,kita duduk aja yuk di taman sekolah" ucapku kesal
"Yaudah,yaudah tapi kamu harus janji dulu kamu gak bakalan emosi lagi kalo ketemu Dinda, selain itu tidak baik, kan juga malu Nis kalo sampe diliat sama orang" jawab Tissa dengan begitu bijaknya
"Okedeh Tiss" sahutku masih agak emosi
"Nah gitu dong, itu baru namanya Anisa yg aku kenal" ucap Tissa dengan nada ceria
*
Setelah di taman, aku bilang kepada Tiasa,
"Tiss" ucapku
"Apa Nis?" jawab Tissa enteng
"Maafin aku ya" ucapku cepat
"Lah, ko kamu minta maaf..? Emang kamu punya salah apa sama aku?" jawab Tissa bingung
"Ya iya,aku mungkin emang ga punya salah sama kamu. Tapi kini aku sadar sahabat aku sesungguhnya adalah kamu Tiss,kamu itu baik,selalu mendengarkan keluh kesalku,selalu menenangkan aku disaat aku sedih, kamu juga.... "
"Apaan sih kamu Nis,kita ini sahabatan udah lama banget,bahkan sejak SD. Kamu itu bukan hanya sahabat aku, tapi aku udah menganggap kamu sebagai saudaraku Niss" sambung Tissa yang membuat aku terharu
"Yaudah,mulai hari ini kamu duduk satu bangku sama aku ya Tiss,kan Nadia baru aja pindah sekolah, daripada aku duduk sendirian, lagipula kamu duduk sendirian pula, hahaha" balasku sedikit tertawa
"Sipp Niss,oh iya nanti pas pulang sekolah, anterin aku ke Gramedia ya, aku mau beli buku nih" kata Tisaa
"Buku? Buku apa ? " tanyaku heran
"Ah.. Sudahlah, lihat saja nanti Nis"ucapnya meledek
"Oohh sudahlah..." jawabku datar
*
Sejak saat itu, aku mulai sadar bahwa sahabat sejati ku adalah Tissa bukan Dinda.
Sejak saat itu aku tidak pernah berbicara bersama Dinda lagi sampai sekarang aku duduk di kelas 1 SMA.
Sejak saat itu aku tidak pernah berbicara bersama Dinda lagi sampai sekarang aku duduk di kelas 1 SMA.
----END---