Selasa, 21 Juli 2015

Asal Mula Danau Toba

Danau Toba dengan panjang 100 kilometer dan
lebar 30 kilometer merupakan danau terbesar di
Indonesia. Danau yang di tengahnya terdapat Pulau Samosir ini terletak di Provinsi Sumatra Utara.
Menurut cerita, danau vulkanik ini dahulu
merupakan sebuah aliran sungai. Namun karena
terjadi sebuah peristiwa yang luar biasa, aliran
sungai tersebut berubah menjadi danau. Peristiwa
apakah yang terjadi sehingga aliran sungai itu
berubah menjadi danau? Ikuti kisahnya dalam
cerita Asal Mula Danau Toba berikut ini.

* * *

Alkisah, di daerah Sumatra Utara, Indonesia, hiduplah seorang pemuda pengembara. Ia mengembara ke berbagai negeri. Pada suatu hari,
sampailah ia di sebuah tempat yang alamnya indah dan subur. Di sekitar tempat itu terdapat sebuah sungai yang jernih airnya. Pemuda itu tertarik untuk menetap di tempat itu. Akhirnya, ia pun membangun sebuah rumah sederhana tidak jauh dari sungai. Rumah itu terdiri dari sebuah kamar tidur dan sebuah ruang dapur untuk memasak. Usai mendirikan rumah, pemuda itu segera mencari sebidang tanah yang subur untuk ia tanami berbagai jenis tanaman seperti umbi umbian dan sayur-sayuran. Setelah menemukan tempat yang cocok, ia pun mulai membuka lahan dengan menebangi pohon-pohon besar dan membabat semak-semak belukar. Setiap kali pulang ke rumahnya, ia selalu membawa kayu bakar dan menyimpannya di kolong rumahnya untuk digunakan memasak sehari-hari. Selain berladang, pemuda itu pergi ke sungai untuk memancing ikan untuk dijadikan lauk.
Pada suatu hari, sepulang dari ladangnya, pemuda itu pergi ke sungai memancing ikan. Sesampainya di sungai, ia pun segera melemparkan pancing ke tengah sungai. Sudah cukup lama ia memancing, tapi tak seekor ikan pun yang menyentuh umpannya. Berkali-kali ia mengangkat dan melemparkan kembali pancing ke sungai, namun belum juga ada ikan yang memakan umpannya.
“Aneh! Kenapa tidak seekor ikan pun yang
menyentuh umpanku? Padahal biasanya setiap aku melemparkan pancingku ke sungai langsung
disambar ikan. Apakah ikan di sungai ini sudah
habis?” pikirnya dalam hati.
Beberapa saat kemudian, pemuda itu mencoba
sekali lagi menarik dan melemparkan kembali
pancingnya agak ke tengah sungai. Tetapi, tetap
saja belum membuahkan hasil. Akhirnya ia
memutuskan untuk berhenti memancing. Namun,
ketika hendak menarik pancingnya, tiba-tiba
seekor ikan menyambarnya. Setelah beberapa saat membiarkan pancingnya ditarik ikan itu ke sana kemari, ia pun menariknya dengan pelan-pelan. “Aduuuh, berat sekali! Ini pasti ikan besar yang menarik pancingku,” pikir pemuda itu.
Ternyata benar. Setelah dengan susah payah
pemuda itu menarik pancingnya hingga ke tepi
sungai, tampaklah seekor ikan besar tergantung
dan mengelepar-gelepar di ujung tali pancingnya.
Dengan cepat, ia mengangkat pancingnya agak jauh ke darat agar tidak terlepas ke sungai. Alangkah senang hati pemuda itu, karena baru kali ini ia mendapatkan ikan sebesar itu. Saat ia melepas mata pancingnya, ikan itu menatapnya dengan penuh arti. Ia merasa tatapan mata ikan itu bagai tatapan mata seorang gadis yang jatuh hati kepadanya. Namun, pemuda itu berpikir bahwa tidak mungkin seekor ikan bisa jatuh hati
kepadanya. Dengan perasaan gembira, ia pun
segera memasukkan ikan itu ke dalam keranjang
ikan. Setelah itu, ia bergegas pulang ke rumahnya
sambil tersenyum membayangkan betapa lezatnya daging ikan besar itu jika dipanggang.
Sesampainya di rumah, pemuda itu langsung
membawa ikan itu ke dapur. Ketika hendak
memanggang ikan itu, ternyata persediaan kayu
bakar telah habis. Ia pun segera keluar mengambil kayu bakar di kolong rumahnya. Alangkah terkejutnya ia setelah kembali ke dapurnya. Ikan yang tersimpan di keranjangnya sudah tidak ada
lagi. “Di mana ikanku? Bukankah tadi dia masih di
keranjang ini?” gumam pemuda itu dengan heran.
Ketika memeriksa wadahnya, pemuda itu melihat
beberapa keping uang emas. Ia pun semakin heran
dan bingung. “Aneh! Kenapa ada kepingan uang emas di sini? Siapa yang menaruhnya?” gumamnya lagi. Dengan perasaan bingung, pemuda itu mengambil kepingan uang emas itu dan hendak menyimpannya di kamar. Betapa terkejutnya ia saat membuka
pintu kamarnya. Ia melihat seorang gadis sedang
berdiri di depan cermin sambil menyisir rambutnya yang panjang terurai. Ketika gadis itu membalikkan badan dan memandangnya, darah pemuda itu langsung tersirap melihat kecantikannya. Selama bertahun-tahun mengembara ke berbagai negeri,
baru kali ini ia melihat gadis secantik dia.
“Hai, siapa kamu? Kenapa bisa berada di dalam
kamarku?” tanya pemuda itu heran.
Gadis itu bukannya menjawab pertanyaan si
pemuda, tetapi ia malah mengajaknya agar
menemaninya ke dapur. Tanpa berkata sedikitpun, pemuda itu menuruti pemintaan sang Gadis. Sesampainya di ruang dapur, gadis itu langsung mengambil beras untuk dimasak. Sambil menunggu nasi matang, gadis itu pun bercerita kepada si pemuda.
“Maaf Tuan, jika kehadiran hamba di sini telah
mengusik ketenangan Tuan. Sebenarnya hamba
adalah penjelmaan dari ikan yang Tuan bawa dari
sungai tadi. Sedangkan kepingan uang emas yang
ada di wadah itu adalah penjelmaan sisik hamba,”
kata gadis itu. Sang Pemuda seakan-akan tidak percaya dengan
perkataan gadis itu. Tetapi apa yang dihadapinya
itu adalah kenyataan, bukan hanya mimpi belaka.
Belum sempat ia berkata apa-apa, si gadis kembali angkat bicara.
“Jika Tuan berkenan, bolehkah hamba tinggal
bersama Tuan di sini?” pinta gadis itu.
“Dengan senang hati, Putri!” jawab pemuda itu.
Akhirnya, gadis itu pun tinggal di rumahnya.
Setelah beberapa minggu hidup bersama, pemuda
itu melamarnya untuk dijadikan istri.
“Baiklah, Tuan! Hamba menerima lamaran Tuan,
tapi Tuan harus memenuhi satu permintaan
hamba,” kata gadis itu.
“Apakah permintaanmu itu, Putri?” tanya pemuda itu.
“Tuan harus berjanji untuk tidak menceritakan asal usul hamba sebagai penjelmaan ikan kepada siapa pun,” pinta gadis itu.
“Baiklah, saya terima permintaanmu. Saya
bersumpah tidak akan pernah mengungkit asul-
usul, Putri,” kata pemuda itu.
Setelah pemuda itu mengucapkan sumpah, keduanya pun menikah. Setahun kemudian, mereka pun dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan.
Mereka merawat dan membesarkan anak itu dengan perhatian dan kasih sayang. Namun karena kasih sayang yang berlebihan, anak itu menjadi anak yang manja dan pemalas.
Ketika anak itu beranjak remaja, ibunya sering
menyuruhnya mengantarkan makanan dan minuman untuk ayahnya yang sedang bekerja di ladang.
Namun anak itu selalu menolak perintah ibunya,
sehingga terpaksalah ibunya yang harus mengantar makanan itu.
Pada suatu hari, sang Ibu sedang merasa tidak
enak badan. Ia pun menyuruh anaknya agar
mengantarkan bungkusan yang berisi nasi dan ikan panggang untuk ayahnya. Mulanya anak itu
menolak, namun karena sang Ibu terus
memaksanya, akhirnya dengan perasaan kesal anak itu mengantar makanan itu. Di tengah perjalanan, tiba-tiba anak itu merasa lapar. Ia pun berhenti
dan membuka bungkusan itu. Dengan lahapnya, ia
memakan sebagian nasi dan lauknya hingga yang
tersisa hanya sedikit nasi dan daging ikan yang
menempel di tulang. Setelah kenyang, ia pun
membungkus kembali makanan itu dan melanjutkan perjalanan menuju ke ladang. Sesampainya di ladang, ia segera menyerahkan bungkusan itu kepada ayahnya.
“Wah, kamu memang anak yang rajin, Anakku!’ puji sang sambil tersenyum.
Sang Ayah yang sudah kelaparan segera membuka bungkusan itu. Alangkah terkejutnya ia saat melihat isi bungkusan itu yang hanya sisa-sisa. Hatinya yang semula senang dan gembira, tiba-tiba berubah menjadi kesal dan marah.
“Hai, kenapa isi bungkusan ini hanya sisa-sisa?”
tanya sang Ayah dengan wajah memerah.
“Maaf, Ayah! Di perjalanan tadi saya sangat lapar, jadi saya makan sebagian isi bungkusan itu,” jawab sang Anak.
Mendengar jawaban itu, kemarahan sang Ayah pun semakin memuncak. Ia pun memukul anaknya sambil berkata, “Dasar anak tidak tahu diuntung! Kamu memang benar-benar anak keturuan ikan!”
Sambil menahan rasa sakit dipukuli, anak itu
bertanya kepada ayahnya, “Apa maksud Ayah?
Kenapa mengatakan aku anak keturunan ikan?”
“Asal kamu tahu saja, ibumu adalah penjelmaan
seekor ikan,” jawab Ayahnya.
Mendengar jawaban ayahnya, anak itu segera
berlari pulang ke rumahnya sambil menangis.
Sesampainya di rumah, ia pun langsung mengadu
kepada ibunya.
“Ibu..., Ibu...! Ayah memukulku dan mengatakan
aku anak keturunan ikan,” kata anak itu.
Sang Ibu sangat sedih mendengar pengaduan
anaknya itu, karena suaminya telah melanggar
sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang
mengungkit asal asulnya. Seketika itu pula ia
menyuruh anaknya agar naik ke puncak bukit.
“Anakku! Naiklah ke puncak bukit itu dan panjatlah pohon yang paling tinggi!” seru sang Ibu sambil meneteskan air mata.
Tanpa banyak tanya lagi, anak itu pun segera
berlari ke atas bukit yang tidak jauh dari rumah
mereka. Ketika anak itu sampai di lereng bukit,
sang Ibu pun segera berlari menuju ke sungai. Saat ia berada di tepi sungai, cuaca yang semula cerah, tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita. Langit bergemuruh disusul petir menyambar-nyambar yang disertai dengan hujan yang sangat deras.
Pada saat itulah, sang Ibu segera melompat ke
dalam sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar. Tak berapa lama kemudian, sungai itu banjir dan airnya meluap ke mana-mana, sehingga tergenanglah lembah tempat sungai itu mengalir. Lama kelamaan, genangan air itu semakin meluas
dan akhirnya berubah menjadi sebuah danau yang sangat besar. Oleh masyarakat setempat, danau itu dinamakan Danau Toba.

* * *

Demikian cerita Asal Mula Danau Toba dari daerah Sumatra Utara, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori legenda yang mengandung nilai-nilai moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sedikitnya ada dua nilai moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu akibat buruk sifat terlalu memanjakan anak dan sifat tidak pandai menjaga amanah.
Pertama, akibat buruk karena terlalu memanjakan anak, sebagaimana tampak pada sikap si Pengembara dan istrinya yang terlalu memanjakan anaknya dengan mencurahkan perhatian dan kasih sayang secara berlebihan. Akibatnya, anaknya pun menjadi pemalas.
Kedua, akibat buruk tidak pandai memelihara
amanah Orang yang tidak pandai memelihara
amanah adalah orang yang tidak dapat dipercaya. Hal inilah yang terjadi pada si Pengembara yang
telah mengingkari janji dan sumpahnya dengan
mengungkit-ungkit asal-usul istrinya di depan anak mereka. Akibatnya, istrinya pun pergi
meninggalkannya dan kembali menjelma menjadi
seekor ikan besar.

Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
siapa melalaikan amanah, hidup matinya takkan berkah siapa menolak amanah, balak menimpa hidupnya punah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar